Suasana DTW Sangeh, Badung di tengah pandemi COVID-19. (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Sesuai tahapan tatanan kehidupan era baru atau new normal, Daya Tarik Wisata (DTW) Sangeh mulai dibuka untuk wisatawan domestik (wisdom) per 31 Juli 2020. Meski demikian, jumlah wisatawan masih jauh lebih sedikit dibandingkan masa sebelum pandemi COVID-19.

Bendesa Adat Sangeh I.B. Sunartha didampingi Wakil Bendesa Putu Nasib dan Pemangku Pura Pucak Bukit Sari I.B. Nyoman Purna, Selasa (18/8) mengatakan, sejak 31 Juli, Wisdom sudah cukup banyak yang mengunjungi DTW Sangeh. Wisdom dominan berasal dari Jakarta, Bandung, Surabaya dan Jogja. “Sampai dua minggu ini sudah ada 200 wisatawan domestik yang berkunjung,” ujarnya.

Baca juga:  Jangan Cuma Bahas Ranperda Atraksi Budaya, DPRD Diminta Perhatikan Iklim Usaha

Tak hanya wisdom, wisatawan mancanegara (wisman) juga ada yang berwisata di Sangeh. Namun jumlahnya sangat sedikit.

Selama dua pekan di Agustus ini hanya terdapat 22 orang wisman. Kondisi tersebut jauh berbeda dibandingkan sebelum pandemi. Kala itu, jumlah kunjungan wisman per harinya bisa mencapai seribuan orang.

Secara keseluruhan, wisatawan lokal Bali masih mendominasi. Sejak keran pariwisata lokal Bali dibuka pada 9 Juli, wisatawan lokal cukup banyak mendatangi objek wisata Sangeh.

Baca juga:  Go Digital, Klungkung Luncurkan Aplikasi Destinasi Pariwisata

Tetapi, belum bisa mendongkrak pendapatan DTW Sangeh. Bahkan, sejauh ini pendapatan masih ditopang retribusi dari aktivitas prewedding. “Dulu di masa normal pendapatan bisa Rp 300 juta sampai Rp 400 juta per bulan. Sekarang, sejak pariwisata dibuka di new normal untuk wisatawan domestik pada 31 Juli, pendapatan hanya Rp 28 juta,” jelas Sunartha.

Atas minimnya pendapatan, pihaknya pun mesti berpikir keras untuk membiayai operasional DTW Sangeh. Apalagi saat pariwisata ditutup total, pihaknya tidak mengambil kebijakan PHK atau merumahkan pengelola DTW Sangeh.

Baca juga:  Aktivitas Water Sport Usik Snorkling dan Diving di Amed

“Jadi, kita putuskan gaji pengelola kita tanggung dari desa adat. Tidak ada yang dipecat atau dirumahkan. Tapi kita gilir mereka untuk bertugas. Sewaktu pariwisata ditutup, kita memang menutup total akses wisata di Sangeh. Makanya pendapatan waktu itu nol,” katanya. (Eka Adhiyasa/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.