Penyintas Bom Bali I, Thiolina Ferawati Marpaung, bangkit dari trauma dan kerusakan mata untuk mendampingi keluarga korban serta menyuarakan perdamaian dari Bali untuk dunia.(BP/par)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Thiolina Ferawati Marpaung, penyintas tragedi Bom Bali I ini harus menjalani hidup dengan kerusakan pada kedua matanya sejak ledakan di Jalan Legian, Kuta, pada 12 Oktober 2002. Namun, pengalaman pahit itu tak memadamkan semangatnya. Bersama Yayasan Isana Dewata, Lina terus memperjuangkan hak keluarga korban sekaligus menyuarakan pesan perdamaian dari Bali untuk dunia.

Peristiwa itu terjadi saat Lina bersama dua rekan kantornya melintas di Jalan Legian, Kuta, setelah menghadiri ulang tahun klien. Mobil mereka terjebak kemacetan, tak jauh dari Paddy’s Pub dan Sari Club, ketika ledakan pertama tiba-tiba mengguncang kawasan tersebut.

Lina sempat mengira mobilnya ditabrak dari belakang. Namun, sebelum mendapat jawaban, ledakan kedua kembali terjadi. Di tengah kepanikan, ia melihat salah seorang rekannya terkulai di dashboard.

Baca juga:  Tanpa Titipan, Disdikpora Badung Tegaskan SPMB 2026 Berlangsung Transparan

“Saat ledakan pertama, saya masih bertanya apakah mobil kami ditabrak dari belakang. Belum sempat dijawab, bom kedua meledak. Saya melihat teman saya sudah ngeplek di dashboard,” kenang Lina, saat diwawancara usai doa bersama lintas agama peringatan 24 tahun tragedi bom bali di Ground Zero, Jl. Legian, Kuta (12/10) malam.

Ledakan tersebut merusak kedua mata Lina. Ia menjalani perawatan medis panjang, termasuk mencari donor hingga ke Australia karena sulit mendapatkannya. Hingga kini, ia masih rutin menjalani pemeriksaan untuk memantau kondisi retina yang membutuhkan perhatian khusus.

“Dokter masih meminta saya rutin check-up sampai sekarang. Seiring bertambahnya usia, kondisi mata harus terus dipantau karena ada benda yang dipasang untuk menjaga retina,” ujarnya.

Kedua rekan Lina juga mengalami luka bakar parah pada sekitar tiga perempat tubuh mereka. Keduanya sempat bertahan hidup, tetapi salah seorang di antaranya meninggal dunia saat pandemi COVID-19. Rekannya itu masih memiliki serpihan logam di paru-paru yang tidak dapat diangkat dokter, sehingga turut memengaruhi daya tahan tubuhnya.

Baca juga:  Bantu Polri Amankan Demo, Ini Perintah Pangdam

Trauma membuat Lina sempat enggan membicarakan tragedi tersebut. Namun, langkahnya berubah ketika sejumlah perempuan yang kehilangan suami akibat Bom Bali meminta bantuannya memperjuangkan hak keluarga korban. “Mereka bilang, ‘Lina, bantu kami agar bisa mendapatkan hak kami.’ Dari situ, saya tergerak untuk bergabung dengan mereka,” katanya.

Pada 2005, Lina mendirikan Yayasan Isana Dewata. Bersama para penyintas, ia mendampingi keluarga korban sekaligus menjaga ingatan masyarakat melalui kegiatan peringatan dan doa perdamaian.

Baca juga:  Wisatawan Ramai, Satpol PP Badung Prioritaskan Pengawasan Prokes Objek Wisata

Lina mengaku pernah marah dan mempertanyakan alasan dirinya menjadi korban. Seiring waktu, ia belajar menerima kenyataan, melakukan introspeksi, dan memaafkan para pelaku.

Kini, ia terus mengajak masyarakat merawat toleransi dan mencegah kekerasan serupa terulang. Baginya, perdamaian harus tumbuh dari kasih sayang terhadap sesama manusia dan seluruh makhluk hidup. “Perdamaian itu bisa terjadi jika dilandasi rasa kasih kepada sesama dan seluruh makhluk hidup. Meski tidak ada anggaran, kami tetap berusaha menyuarakan perdamaian dari Bali untuk dunia,” tegasnya.

Lina berharap doa lintas agama mampu menggugah masyarakat untuk berbuat baik, menjaga kerukunan, dan memperkuat persatuan. Baginya, mengenang Bom Bali bukan sekadar mengingat luka masa lalu, melainkan meneguhkan komitmen agar tragedi serupa tidak kembali terjadi. (Parwata/balipost)

 

BAGIKAN