Diperpa Badung membidik lahan tanam bawang merah seluas 12 hektar dengan target produksi 174 ton untuk memperkuat pasokan dan menekan inflasi. (BP/istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Upaya mengendalikan harga pangan di Kabupaten Badung terus diperkuat. Dinas Pertanian dan Pangan (Diperpa) Badung membidik pengembangan lahan tanam bawang merah seluas 12 hektar secara serempak dengan target produksi mencapai 174 ton. Target tersebut diharapkan mampu memperkuat pasokan bawang merah sekaligus membantu menjaga kestabilan harga komoditas hortikultura di pasaran.

Kepala Diperpa Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana, mengatakan pengembangan lahan bawang merah tersebut mengacu pada keberhasilan panen di Subak Delod Sema, Kelurahan Sading, Kecamatan Mengwi. “Ketika nanti panen bawang merah ini serempak di 12 hektar, kami berharap 174 ton itu akan mampu untuk menekan harga. Artinya pengendalian inflasi ini bisa,” ujar Kepala Diperpa Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana, Jumat (2/9).

Baca juga:  Dibandingkan Sebulan Sebelumnya, Inflasi Bali Alami Kenaikan

Capaian di Subak Delod Sema menjadi salah satu dasar untuk memperluas areal tanam. Dari lahan seluas 2 hektar, petani mampu menghasilkan hampir 26 ton bawang merah dalam masa tanam sekitar dua bulan.

Diperpa Badung selanjutnya memetakan sejumlah subak sebagai lokasi pengembangan. Rinciannya, Subak Blahkiuh di Abiansemal seluas 1 hektar, Subak Munggu Desa Munggu 2 hektar, Subak Cemagi Anyar Munggu 2 hektar, Subak Cemagi Let Cemagi 2 hektar, Subak Aya Tumbak Bayuh 1 hektar, Subak Cangi Kuwum 1 hektar, Subak Delod Sema Sading 2 hektar, serta Subak Munggu Tegallang Pererenan 1 hektar. “Jadi total ada 12 Hektar tersebar di Badung yang akan ditanami bawang,” ucapnya.

Baca juga:  Inflasi Juni 2026 Didorong Kenaikan Bensin hingga Tarif Angkutan Udara

Selain mengejar peningkatan produksi bawang merah, Pemkab Badung juga mendorong petani membentuk kelompok tani khusus pengembangan hortikultura. Langkah tersebut bertujuan menjaga kontinuitas pasokan sekaligus mendorong diversifikasi tanaman. “Petani tidak hanya diarahkan bergantung pada komoditas padi. Melalui pola tanam gilir palawija, lahan dapat dimanfaatkan untuk komoditas berbeda sehingga kondisi tanah tetap terjaga,” jelasnya.

Menurutnya, diversifikasi penting karena penanaman padi secara terus-menerus dapat memengaruhi tingkat keasaman tanah dan pada akhirnya berdampak terhadap produktivitas. “Ketika padi terus ditanam, ini akan meningkatkan keasaman tanah sehingga kesuburan tanah itu terganggu, sehingga produksi padi itu juga akan menurun. Harapan kami diversifikasi tanaman ini sangat penting dalam rangka untuk menjaga produksi di bidang horti ke depan,” terangnya.

Baca juga:  Antisipasi Penyebaran COVID-19, Ini Dilakukan Pasukan Brimob

Pengembangan bawang merah juga tidak hanya menyasar wilayah Mengwi. Lokasi percontohan telah merambah Kecamatan Petang dan Abiansemal. Pemkab Badung menargetkan penguatan sektor hortikultura terus berlanjut hingga 2027. “Ke depan, untuk tahun 2027, kami berharap kelompok tani ini bisa berlanjut. Apa yang diperlukan dalam proses untuk penanaman bawang ini akan di-support oleh Pemerintah Kabupaten Badung,” ungkapnya.

Dengan pola tanam yang lebih beragam dan dukungan pemerintah, Agung Raka berharap pengembangan bawang merah di Badung mampu memperkuat produksi pangan lokal sekaligus menjadi salah satu langkah menjaga stabilitas harga dan pengendalian inflasi daerah. (Parwata/balipost)

BAGIKAN