Seorang warga berjalan di bahu Jalan Gunung Kawi, Denpasar. Kondisi ini dikarenakan trotoar jalan tersebut dipakai pedagang berjualan. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kebaradaan pasar tumpah di Kota Denpasar belum optimal bisa ditata. Selain menimbulkan kemacetan di kawasan pasar tumpah, juga menjadi persaingan dan kecemburuan bagi pedagang di dalam pasar. Beberapa titik pasar tumpah yang bisa diambil alih penataannya oleh perumda yakni kawasan Pasar Ketapian serta Pasar Satria. Itupun dilakukan secara perlahan dengan berbagai pendekatan.

Dirut Perumda Pasar Sewakadarma Kota Denpasar, I Wayan Suadi Putra, Selasa (29/9) mengatakan, penanganan pasar tumpah tidak cukup dilakukan dari sisi pengelola pasar, karena aktivitas tersebut juga melibatkan masyarakat dan aktivitas ekonomi di sekitar kawasan pasar.

Baca juga:  Mengandung Narkoba, Didalami Sampel Urine 3 Oknum Pelajar SMK

Untuk pasar tumpah di kawasan Ketapian, pihaknya telah melakukan rapat koordinasi dengan Dinas Perhubungan, Desa Adat Sumerta, serta dua banjar adat yang menaungi kawasan tersebut. Menurut Suadi Putra, Perumda Pasar masih mencari formula yang tepat untuk menangani aktivitas pasar tumpah tersebut. Sebab, pedagang yang beraktivitas di luar kawasan pasar tidak seluruhnya berada dalam lingkup pengelolaan Perumda Pasar. “Kalau kami dari Perumda kan sudah punya lingkungan pasar. Yang tumpah ini justru dari efek tautan ekonomi di sekitarnya, masyarakat yang memiliki,” ujarnya.

Baca juga:  Kabel Semrawut Segera Ditata, Jalur Protokol Bakal Steril Kabel Udara

Untuk sementara, penanganan dilakukan dengan membatasi jam operasional pasar tumpah. Kesepakatan dengan Dinas Perhubungan mengatur akses jalan yang terhubung ke utara menuju Jalan Pattimura dan ruas jalan di depan pasar ditutup hingga pukul 08.00 WITA. Setelah itu, jalur kembali dibuka untuk lalu lintas.

Suadi Putra menegaskan, upaya mengarahkan pedagang agar kembali berjualan di dalam kawasan pasar juga menjadi bagian dari rencana penataan. Konsep serupa sebelumnya pernah diterapkan di kawasan Pasar Badung. Penataan juga direncanakan di Pasar Satria. Perumda Pasar berencana memanfaatkan lantai satu sebagai area parkir dan mengarahkan pedagang untuk berjualan di lantai dua. Namun, langkah tersebut membutuhkan pendekatan kepada para pedagang yang selama puluhan tahun telah terbiasa dengan pola berjualan di lokasi saat ini.

Baca juga:  Warga Jimbaran Tumpah Ruah ke Jalan, Isu Serangan Ternyata Cekcok Asmara

Di sisi lain, Suadi Putra mengakui pasar tumpah bukan fenomena baru di Denpasar. Aktivitas tersebut telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari dinamika perdagangan masyarakat. Namun, kondisi saat ini dinilai semakin kompleks karena aktivitas jual beli berlangsung bersamaan dengan lalu lintas kendaraan. (Widiastuti/balipost)

 

BAGIKAN