Seorang pedagang pangan di Pasar Kereneng, Denpasar sedang melayani pembeli. (BP/Melynia Ramadhani)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sulitnya pembelian bahan bakar minyak (BBM) yang menyebabkan antrean pada pengisian di seluruh SPBU di Kota Denpasar telah memberi dampak pada sektor lainnya. Salah satunya kunjungan ke pasar tradisional yang menurun termasuk jumlah pedagang yang berjualan pun tidak optimal.

Dirut Perumda Pasar Sewakadarma Kota Denpasar I Wayan Suadi Putra mengungkapkan, penurunan kunjungan masyarakat hingga 65 persen di sejumlah pasar yang berada di bawah pengelolaannya. Terutama paling nampak di Pasar Kumbasari Malam. Ia mengatakan dampak tersebut dirasakan dalam beberapa hari terakhir.

Selain jumlah pengunjung yang menurun drastis, kedatangan pedagang ke pasar juga tidak optimal. Sebagian besar pedagang di pasar tradisional berasal dari luar Denpasar. Mereka juga mengandalkan pasokan barang dari luar wilayah, seperti Tabanan, Karangasem, dan Buleleng. Terganggunya mobilitas akibat persoalan BBM membuat pedagang kesulitan datang ke pasar maupun membawa barang dagangan.

Baca juga:  Harga Minyak Dunia Berfluktuasi, Pemerintah Pastikan Harga BBM dan LPG Subsidi Tak Naik

“Selama empat hari ke belakang ini, hampir setiap hari kami menerima laporan berupa foto dan rekaman video dari masing-masing pasar. Kondisinya sepi sekali,” ujarnya di sela-sela penyaluran BBM kemasan 3 liter di SPBU Jalan Gatot Subroto Timur, Jumat (16/10).

Dampak tersebut juga dirasakan Pasar Malam Asoka. Suadi Putra menyebutkan, pasokan barang yang diharapkan datang dari Jawa belum tiba sehingga sebagian pedagang tidak dapat berjualan seperti biasa. Sementara itu, pedagang yang masih memiliki stok barang tetap menghadapi persoalan minimnya pembeli. “Kalaupun ada yang masih bisa berjualan karena memiliki beberapa stok barang, pengunjungnya yang tidak ada. Jadi, kami juga terdampak dari sisi kunjungan,” katanya.

Baca juga:  Pemindahan Pedagang Pelataran Pasar Ditunda

Ia mencontohkan kondisi Pasar Kumbasari yang biasanya ramai pada malam hari. Dalam dua hari terakhir, suasana pasar tersebut jauh lebih lengang dibandingkan kondisi normal.

Penurunan aktivitas pasar ini dinilai berpengaruh terhadap perputaran ekonomi, terutama bagi pedagang yang bergantung pada kelancaran pasokan barang dan mobilitas pembeli. Jika kondisi tersebut berlangsung berkepanjangan, aktivitas perdagangan di pasar tradisional berpotensi semakin terganggu.

Atas kondisi itu, Suadi Putra berharap pihak terkait, termasuk Pertamina dan pemerintah, segera mengambil langkah antisipatif untuk mengatasi persoalan BBM. Menurutnya, kelancaran pasokan dan distribusi BBM diperlukan agar mobilitas pedagang serta pengiriman barang kembali normal. “Kami berharap segera diambil langkah-langkah antisipatif sehingga BBM ini bisa normal kembali, terutama stoknya,” imbuhnya. (Widiastuti/balipost)

Baca juga:  Pasokan BBM ke Buleleng Belum Normal, Pertamax Hanya 5 Persen dari Jatah
BAGIKAN