
BANGLI, BALIPOST.com – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bangli akan mengusulkan penyediaan armada sekolah ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk melayani jalur Desa Subaya, Kintamani. Langkah tersebut dilakukan guna mengatasi persoalan keterbatasan transportasi bagi puluhan anak sekolah di wilayah tersebut.
Kabid Angkutan Dishub Kabupaten Bangli, Sang Putu Surata, menyampaikan bahwa usulan tersebut merupakan tindak lanjut dari permohonan yang sebelumnya diajukan oleh pemerintah Desa Subaya. Berdasarkan pendataan terbaru, saat ini terdapat 48 siswa asal Desa Subaya yang saat ini menempuh pendidikan di SMPN 7 Kintamani di wilayah Penulisan, Desa Sukawana dengan jarak cukup jauh dan medan menantang.
“Saat ini kami sedang berproses membuat kajian dan usulan ke Kementerian Perhubungan. Mudah-mudahan usulan ini bisa diterima sehingga siswa di Subaya dapat terlayani,” ujar Sang Putu Surata, Kamis (3/9).
Dari hasil survei lapangan, Dishub Bangli menilai jenis kendaraan yang paling ideal untuk melintasi jalur Desa Subaya adalah minibus. Pilihan ini juga didasari bahwa kendaraan jenis minibus sudah terbiasa melintasi jalan cukup ekstrem di desa tersebut. “Kami usulkan armada DAMRI untuk rute tersebut. Seperti yang sudah diterapkan di Desa Terunyan sejak 2019 lalu,” ujarnya.
Pengajuan usulan ke pemerintah pusat ini ditempuh Dishub Bangli lantaran keterbatasan APBD Kabupaten Bangli. Pihak Dishub sebenarnya telah mengantongi kajian penyediaan transportasi siswa gratis sejak 2021, namun realisasinya terhalang kendala anggaran daerah. “Mudah-mudahan nantinya kami bisa bertahap mengusulkan fasilitas yang sama untuk desa lainnya,” pungkasnya.
Seperti yang diketahui, anak-anak tamatan SD di Desa Subaya selama ini harus menempuh perjalanan jauh untuk melanjutkan pendidikan. Sebab SMP Satap yang ada di desa setempat sudah lama tidak beroperasi. Pilihan sekolah menengah terdekat adalah SMPN 7 Kintamani di wilayah Desa Sukawana yang jaraknya sekitar 7-8 kilometer.
Jarak yang cukup jauh tersebut membuat biaya pendidikan menjadi sangat mahal. Ketiadaan angkutan umum membuat kepemilikan kendaraan pribadi menjadi syarat mutlak agar anak-anak tidak putus sekolah. “Untuk sekolah, anak-anak sekarang harus punya modal sepeda motor. Kalau tidak punya motor, otomatis mereka out (putus sekolah). Jadi syarat pertama kalau mau melanjutkan sekolah, harus punya sepeda motor,” ungkap Wayan Teka, warga Desa Subaya belum lama ini. (Dayu Swasrina/balipost)










