Suasana desa wisata Penglipuran. (BP/ina)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bali membutuhkan pendekatan pariwisata yang tidak hanya menjaga destinasi agar tidak rusak, tetapi juga mampu memulihkan dan memperkuat lingkungan, budaya serta masyarakat. Bali diminta naik kelas ke pariwisata regeneratif. Demikian disampaikan pengamat ekonomi dan pariwisata sekaligus Pengurus PHRI Bali, Dr. Trisno Nugroho, Kamis (13/8).

Ia memberikan contoh keberhasilan Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli menjadi salah satu contoh penting bagaimana pariwisata dan kehidupan adat di Bali dapat berjalan berdampingan. Namun, semakin terkenalnya desa tersebut juga menghadirkan tantangan baru yang menuntut perubahan cara mengelola destinasi.

“Pariwisata regeneratif bukan sekadar pariwisata yang berkelanjutan,” kata Trisno.

Menurut dia, pariwisata berkelanjutan lebih banyak berupaya menjaga agar kegiatan wisata tidak menimbulkan kerusakan. Sementara pariwisata regeneratif bergerak lebih jauh dengan menjadikan aktivitas pariwisata sebagai kekuatan untuk memulihkan dan meningkatkan kualitas suatu tempat.

Baca juga:  Dinkes Bali Antisipasi Kasus Covid-19, Belum Pengaruhi Kunjungan Wisatawan

“Pariwisata harus ikut memulihkan, memperkuat, dan meningkatkan kualitas tempat,” ujarnya.

Penglipuran, menurut Trisno, menjadi salah satu contoh yang relevan. Desa tersebut dikenal memiliki lingkungan yang bersih dan tertata, tata ruang tradisional yang kuat, hutan bambu, rumah adat serta kehidupan masyarakat yang masih menjaga nilai-nilai desa adat.

Namun, keberhasilan tersebut juga menghadirkan tekanan ketika jumlah kunjungan semakin meningkat.

“Ketika semakin terkenal, kunjungan meningkat. Desa menjadi semakin ramai. Sampah harus dikelola lebih baik. Hutan bambu perlu ditata lebih serius. Jalur kunjungan harus dijaga,” katanya.

Baca juga:  Kedatangan Komisi VII DPR RI Direspon Aksi Tolak Reklamasi di Teluk Benoa

Menurut Trisno, kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah desa wisata tidak boleh menjadi tujuan akhir. Destinasi harus terus memperbarui diri agar aktivitas wisata tidak mengurangi kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Dalam penelitiannya mengenai Penglipuran, Trisno menemukan bahwa pengetahuan dan pemahaman masyarakat menjadi faktor penting dalam mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata.

Masyarakat yang hanya mengetahui keberadaan pariwisata belum tentu terlibat. Sebaliknya, pemahaman mengenai manfaat, risiko dan tanggung jawab pariwisata dapat mendorong masyarakat ikut menjaga desanya.

Karena itu, pembangunan desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan promosi, pembangunan fasilitas maupun penambahan atraksi.

Baca juga:  Penambahan Destinasi Baru akan Tingkatkan Kunjungan Wisatawan ke Buleleng

“Desa wisata harus menjadi gerakan masyarakat, bukan hanya program pemerintah atau proyek pengelola,” tegasnya.

Menurut Trisno, keterlibatan masyarakat dapat memperkuat ekonomi lokal, menghidupkan UMKM, membuka ruang bagi generasi muda sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap destinasi.

Namun, keterlibatan masyarakat saja belum otomatis menjamin lingkungan mengalami pemulihan. Diperlukan sistem yang lebih jelas, terukur dan konsisten.

Di sinilah konsep pariwisata regeneratif dinilai menjadi penting bagi Bali.

Bali, kata Trisno, tidak cukup hanya mempertahankan statusnya sebagai destinasi wisata dunia. Pulau ini juga harus tetap menjadi rumah bagi masyarakat, budaya dan alam yang menjadi fondasi pariwisatanya.

“Bali tidak cukup hanya lestari. Bali harus mampu beregenerasi,” ujarnya. (Suardika/balipost)

BAGIKAN