Petugas BPBD-Damkar Bangli mengisi bak penampungan air di Desa Siakin. (BP/Istimewa)

BANGLI, BALIPOST.com – Musim kemarau 2026 diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September, bahkan berpotensi berlanjut sampai awal Oktober. Meski demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangli memastikan hingga kini belum menerima laporan adanya krisis air bersih di desa maupun kelurahan di Kabupaten Bangli.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bangli, I Ketut Agus Sutapa, mengatakan, pihaknya terus meningkatkan kesiapsiagaan dengan mengacu pada prediksi BMKG mengenai musim kemarau tahun ini. Koordinasi juga dilakukan secara rutin dengan Pemerintah Provinsi Bali untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan.

“Yang namanya kekeringan tentu akibat kurangnya pasokan air. Sampai saat ini, berdasarkan hasil koordinasi dan laporan yang kami terima, belum ada desa maupun kelurahan di Bangli yang mengalami krisis air bersih,” kata Agus Sutapa, Selasa (4/8).

Baca juga:  Ini, 5 Nama yang Direkomendasikan Jadi Anggota KI

Menurutnya, debit air di sejumlah sumber memang berpotensi mengalami penurunan seiring masuknya musim kemarau. “Namun sampai saat ini belum ada laporan mengenai desa yang mengalami krisis air,” tegasnya.

Meski situasi masih terkendali, BPBD tetap mewaspadai potensi kekeringan dengan berkaca pada kejadian tahun 2015–2016. Saat itu, beberapa desa di wilayah Kintamani bagian timur, seperti Desa Suter, Abangsongan, dan Abang Batudinding, sempat mengalami krisis air bersih.

Baca juga:  Pasca di "Police Line", Sekuriti DPMPTSP Larang Media Ambil Dokumentasi

Untuk mengatasi kondisi tersebut, BPBD bersama Perumda Air Minum (PDAM) Bangli dan sejumlah organisasi perangkat daerah yang memiliki mobil tangki melakukan pendistribusian air bersih setiap hari sesuai kebutuhan masyarakat. “Syukurlah krisis air dapat kami tanggulangi,” terangnya.

Selain krisis air, BPBD juga mengantisipasi meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau. Hingga saat ini, hasil koordinasi dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Timur menunjukkan belum ada laporan kejadian kebakaran hutan.

Petugas KPH Bali Timur terus memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan, agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Baca juga:  Pelanggar RTHK Banyak, Bisa Dijatuhi Hukuman Kurungan

BPBD juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan di wilayah rawan kekeringan dan kebakaran. Pengendara yang melintasi kawasan hutan, terutama perokok, diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan karena dapat memicu kebakaran.

Agus Sutapa menegaskan BPBD telah menyiapkan personel dan peralatan untuk menghadapi potensi bencana selama musim kemarau. Apabila diperlukan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat guna memperkuat penanganan. “Kami tetap mengajak masyarakat mengurangi resiko-resiko bencana, mengenali upaya pencegahan sehingga dampak kejadian bisa dikurang, bahkan tidak ada,” jelasnya. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN