
DENPASAR, BALIPOST.com – Penantian panjang akhirnya berbuah manis bagi Adiel Mintarja. Mahasiswi semester akhir Jurusan Perhotelan Politeknik Pariwisata Bali itu berhasil mewujudkan mimpi yang telah dipendam selama bertahun-tahun dengan lolos sebagai wakil Bali pada Pagelaran Paduan Suara dan Orkestra Gita Bahana Nusantara (GBN) Tahun 2026 tingkat nasional.
Remaja kelahiran Ampenan, 1 November 2003, tersebut menjadi salah satu dari empat talenta muda Bali yang dipercaya tampil mewakili Pulau Dewata dalam ajang bergengsi yang mempertemukan penyanyi dan musisi muda terbaik dari seluruh Indonesia. Dengan jenis suara alto, Adiel meraih nilai 1.221 dalam seleksi tingkat provinsi.
Selanjutnya, ia akan bergabung bersama ratusan peserta dari berbagai daerah untuk mengikuti rangkaian kegiatan GBN sekaligus tampil pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta.
Putri pasangan Mintarja dan Nelly itu mengaku tidak mampu menyembunyikan rasa haru saat mengetahui dirinya dinyatakan lolos ke tingkat nasional.
“Perasaannya campur aduk. Saya sangat senang, bangga, haru, bahagia, dan benar-benar tidak menyangka bisa dipercaya mewakili Bali,” ujarnya, Sabtu (1/8).
Bagi Adiel, kesempatan tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan sebuah kehormatan besar karena dapat membawa nama Bali di ajang nasional.
“Ini bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi kesempatan yang sangat berharga untuk mewakili Bali dalam acara nasional,” katanya.
Di balik keberhasilannya, tersimpan perjalanan panjang yang sempat tertunda. Keinginan mengikuti GBN sebenarnya sudah muncul sejak beberapa tahun lalu. Namun, saat usianya memenuhi syarat, pandemi COVID-19 melanda sehingga kesempatan itu harus ditunda. Setelah pandemi, kesibukan menjalani perkuliahan membuat impian tersebut kembali tertahan.
Baru pada tahun ini, Adiel memutuskan memberanikan diri mengikuti audisi.
“Saya merasa ini adalah kesempatan yang tepat. Saya mempersiapkan diri sebaik mungkin, menjalani setiap tahapan dengan sungguh-sungguh, dan puji Tuhan dipercaya lolos mewakili Bali,” tuturnya.
Meski akhirnya lolos, Adiel mengaku sejak awal tidak terlalu yakin mampu menembus seleksi nasional. Sebagai peserta yang baru pertama kali mengikuti audisi GBN, ia justru memilih fokus memberikan penampilan terbaik daripada memikirkan hasil akhir.
“Saya melihat kemampuan peserta lain luar biasa. Karena itu saya hanya fokus memberikan yang terbaik sesuai kemampuan saya,” ucapnya.
Perjuangan menuju GBN juga tidak mudah. Sebagai mahasiswa semester akhir, ia harus membagi waktu antara menyelesaikan pendidikan, bekerja, serta mempersiapkan latihan vokal.
Menurutnya, tantangan terbesar justru datang dari manajemen waktu agar semua tanggung jawab dapat berjalan beriringan.
Ia juga mengakui pernah dilanda rasa kurang percaya diri. Namun, dukungan keluarga, teman-teman, dan orang-orang terdekat membuatnya kembali yakin untuk melangkah.
“Mereka selalu meyakinkan saya bahwa saya tidak akan pernah tahu hasilnya jika tidak berani mencoba. Dukungan mereka membuat saya mantap mengikuti audisi,” katanya.
Meski persiapan khusus menjelang audisi tidak berlangsung lama, Adiel telah memiliki fondasi bermusik sejak masih duduk di bangku sekolah dasar melalui paduan suara gereja. Hingga kini ia tetap aktif bernyanyi sehingga menjelang seleksi lebih banyak melakukan pemantapan teknik vokal, latihan lagu, kemampuan membaca notasi, serta menjaga kondisi suara.
Menurutnya, kemampuan membaca notasi menjadi salah satu bagian paling menantang dalam proses seleksi GBN.
“Kuncinya adalah mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, memberikan usaha terbaik, lalu menyerahkan hasilnya kepada Tuhan,” ungkapnya.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya saat mengikuti seleksi adalah kebijakan panitia yang meminta seluruh peserta mengumpulkan telepon genggam sebelum audisi dimulai.
“Awalnya saya cukup gugup karena benar-benar tidak ada distraksi saat menunggu giliran. Tetapi akhirnya saya justru bisa lebih fokus menghadapi audisi,” katanya.
Adiel menilai proses seleksi GBN mengajarkannya bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh persiapan teknis, tetapi juga tekad untuk terus belajar dan berusaha.
“Ketika kita mau terus belajar dan memberikan yang terbaik, hasilnya akan mengikuti pada waktunya,” ujarnya.
Menjelang keberangkatan ke Jakarta, Adiel mengaku paling menantikan kesempatan bertemu dengan peserta dari seluruh Indonesia. Baginya, GBN bukan hanya panggung pertunjukan, tetapi juga ruang untuk saling belajar, berkolaborasi, dan mengenal keragaman budaya Nusantara.
“Saya ingin berteman dengan peserta dari berbagai daerah, berbagi pengalaman, belajar budaya masing-masing, dan merasakan kebersamaan selama mengikuti GBN. Saya yakin ini akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan,” katanya.
Sebagai wakil Bali, Adiel berharap mampu menunjukkan bahwa generasi muda Pulau Dewata tidak hanya dikenal melalui sektor pariwisata, tetapi juga memiliki kualitas, talenta, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap budaya Indonesia.
Ia juga tidak menganggap status sebagai wakil Bali sebagai beban, melainkan sebuah tanggung jawab yang harus dijalani dengan penuh rasa syukur.
“Saya menyikapinya sebagai kehormatan. Saya ingin fokus pada proses, tetap rendah hati, menikmati setiap kesempatan belajar, dan memberikan usaha terbaik untuk Bali,” ucapnya.
Selain memberikan penampilan terbaik di panggung nasional, Adiel ingin memanfaatkan GBN sebagai sarana memperluas wawasan serta memperkaya pengalaman hidup.
Musik sendiri telah menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Selain aktif bernyanyi, kini ia mulai menjadi pelatih musical theatre dan mengajar vokal privat. Ke depan, ia ingin terus berkarya di dunia musik sembari menginspirasi lebih banyak orang.
Keberhasilan yang diraih saat ini juga dipersembahkannya kepada kedua orang tuanya serta keluarga dan orang-orang terdekat yang selalu memberikan dorongan.
“Terima kasih sudah selalu percaya, meyakinkan saya untuk mencoba, dan mendukung saya sampai di titik ini. Kalau bukan karena kalian, mungkin saya tidak akan pernah berani mengambil kesempatan ini,” katanya.
Kepada generasi muda Bali yang masih ragu mengejar impian di bidang musik, Adiel berpesan agar tidak takut mencoba.
“Jangan ragu dan jangan takut untuk mencoba. Habiskan jatah gagalmu di masa muda karena setiap proses pasti membawa pelajaran. Lebih baik gagal setelah mencoba daripada menyesal karena tidak pernah memberi kesempatan kepada diri sendiri. Terus kembangkan talenta, percaya pada proses, dan berani mengejar mimpi,” pesannya.
Ia berharap pengalaman mengikuti GBN 2026 menjadi awal perjalanan yang lebih besar dalam hidupnya.
“Saya ingin terus berkembang, terus belajar, dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” tutupnya. (Ketut Winata/balipost)






