Nathan Shane Gunawan. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Rasa syukur dan bangga bercampur menjadi satu ketika nama Nathan Shane Gunawan diumumkan sebagai salah satu peserta yang lolos mewakili Bali dalam Pagelaran Paduan Suara dan Orkestra Gita Bahana Nusantara (GBN) Tahun 2026 tingkat nasional. Pemuda kelahiran Surabaya, 30 Oktober 2007, itu berhasil meraih nilai 1.263 dan terpilih sebagai salah satu dari empat talenta muda Bali yang akan tampil di Jakarta.

Nathan memiliki jenis suara tenor. Meski persiapan khusus menghadapi seleksi GBN terbilang singkat, pengalaman panjang di dunia paduan suara menjadi bekal penting baginya. Ia telah berkecimpung dalam paduan suara sejak usia 11 tahun.

“Saya tentu sangat bersyukur dan senang sekali. Jujur, saat nama saya diumumkan, rasanya campur aduk antara bahagia, bangga, dan tidak menyangka,” ujar Nathan, Sabtu (1/8).

Bagi Nathan, lolos sebagai wakil Bali bukan semata-mata pencapaian pribadi. Kesempatan tersebut justru dipandang sebagai sebuah tanggung jawab untuk membawa nama Pulau Dewata di tingkat nasional.

“Bisa membawa nama Bali di tingkat nasional adalah suatu kehormatan. Saya ingin memberikan yang terbaik agar bisa membanggakan keluarga, para pelatih, teman-teman, dan tentunya masyarakat Bali,” katanya.

Putra dari pasangan Candra Gunawan dan Setyawati ini mengaku sejak awal mengikuti seleksi dirinya tidak pernah merasa sudah pasti akan lolos. Ia datang dengan rasa percaya diri, tetapi tetap menyadari bahwa seluruh peserta memiliki kemampuan yang tidak kalah luar biasa.

Karena itu, ia memilih fokus mempersiapkan diri dan memberikan penampilan terbaik saat audisi. Setelahnya, Nathan menyerahkan hasil kepada Tuhan.

Menariknya, persiapan khusus Nathan untuk mengikuti seleksi GBN berlangsung di tengah kesibukannya mempersiapkan kuliah di luar pulau. Pendaftaran GBN saat itu sudah mendekati penutupan, sementara jadwal seleksi berdekatan dengan hari pertama perkuliahannya.

Baca juga:  Sambut HUT ke-81 RI, Pemkab Bangli Segera Bagikan Bendera Merah Putih ke Warga

Kondisi tersebut membuat Nathan harus mempertimbangkan banyak hal sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil kesempatan mengikuti seleksi.

“Walaupun waktu persiapannya singkat, saya merasa cukup percaya diri karena sudah berkecimpung di dunia paduan suara sejak usia 11 tahun. Pengalaman yang saya dapatkan selama bertahun-tahun itulah yang menjadi bekal terbesar saya saat mengikuti seleksi,” ungkap Nathan yang baru lulus dari SMKS Wira Harapan, Dalung ini.

Bagi Nathan, tidak ada tantangan yang terlalu berat selama proses seleksi. Tantangan yang paling ia rasakan justru bagaimana membagi fokus antara persiapan kuliah dan kesempatan mengikuti GBN.

Ia pun memilih menikmati proses audisi tanpa memberikan tekanan berlebihan kepada diri sendiri. Nathan juga mengaku tidak pernah benar-benar berada pada titik ingin menyerah.

“Saya cukup yakin bahwa saat audisi saya sudah memberikan kemampuan terbaik yang saya miliki. Jadi setelah itu saya memilih untuk tetap tenang, menikmati prosesnya, dan menunggu hasil dengan penuh rasa syukur,” tuturnya.

Salah satu kemampuan yang menurut Nathan cukup membantu dalam seleksi adalah membaca notasi atau prima vista. Kemampuan tersebut dinilai penting karena peserta GBN nantinya akan mempelajari banyak lagu dalam waktu yang relatif singkat.

Selain kemampuan membaca notasi, pengalaman bertahun-tahun di dunia paduan suara juga menjadi modal yang tidak kalah penting.

Nathan menilai pengalaman mengikuti seleksi GBN berbeda dibandingkan berbagai kegiatan bernyanyi yang pernah dijalaninya. Menurut dia, GBN bukan sekadar kesempatan untuk menunjukkan kemampuan bernyanyi, melainkan proses untuk menjadi bagian dari sebuah tim nasional yang akan tampil membawa nama Indonesia.

Baca juga:  Pemerintah Buka 'War Ticket' untuk Upacara Detik-detik Proklamasi

Ia juga tidak sabar bertemu dengan musisi-musisi muda berbakat dari berbagai daerah di Indonesia.

“Yang paling saya nantikan adalah kesempatan untuk bertemu teman-teman baru dari seluruh Indonesia. Saya ingin menambah relasi, bertukar pengalaman, belajar dari mereka, dan tentunya tampil bersama dalam satu panggung nasional,” katanya.

Sebagai salah satu wakil Bali, Nathan ingin menunjukkan bahwa talenta muda Pulau Dewata tidak hanya memiliki kekuatan di bidang budaya dan pariwisata, tetapi juga memiliki potensi besar dalam bidang musik, termasuk paduan suara.

Ia berharap keikutsertaannya di GBN dapat menjadi bagian dari upaya menunjukkan perkembangan dunia paduan suara Bali sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Bali sebagai sumber inspirasi dalam berkarya.

Meski menyadari ada tanggung jawab ketika membawa nama Bali, Nathan memilih menjadikannya sebagai motivasi, bukan tekanan.

“Tentu ada rasa tanggung jawab karena saya membawa nama Bali. Tetapi saya memilih menjadikannya sebagai motivasi, bukan tekanan. Saya ingin menikmati setiap prosesnya dan memberikan penampilan terbaik agar bisa membawa nama Bali dengan bangga,” ujarnya.

Di Jakarta nanti, target Nathan tidak berhenti pada penampilan terbaik di atas panggung. Ia ingin menyerap sebanyak mungkin ilmu dan pengalaman, sekaligus membangun jaringan dengan peserta dari berbagai daerah.

Menurutnya, pengalaman yang diperoleh selama mengikuti GBN akan menjadi bekal penting untuk perjalanan musiknya di masa depan.

Ketertarikan Nathan terhadap GBN sendiri tidak terlepas dari dukungan orang-orang terdekat. Orang tua dan para pelatih menjadi sosok yang paling mendorong sekaligus merekomendasikan dirinya untuk mengikuti seleksi.

Beberapa pelatihnya bahkan merupakan alumni GBN tahun 2014 dan 2016. Selain itu, pengalaman teman-teman paduan suaranya yang pernah mengikuti GBN pada 2023, 2024, dan 2025 juga membuatnya semakin tertarik mencoba kesempatan tersebut.

Baca juga:  5 Berita Koran Bali Post Terbit Hari Ini, Senin 27 April 2026

“Yang paling berjasa tentu orang tua dan para pelatih saya. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada orang tua, pelatih, guru, dan semua teman-teman yang selalu mendukung saya. Kepercayaan yang mereka berikan menjadi motivasi besar bagi saya untuk terus berkembang,” katanya.

Ke depan, Nathan berencana melanjutkan pendidikan di bidang musik. Ia ingin terus berkembang sebagai musisi sekaligus penyanyi karena musik telah menjadi bagian penting dalam kehidupannya.

Ia pun berharap GBN 2026 tidak hanya menjadi sebuah pencapaian, tetapi menjadi salah satu pijakan untuk perjalanan panjangnya di dunia musik.

Kepada anak-anak muda Bali yang memiliki bakat bernyanyi atau bermusik tetapi masih ragu mengejar mimpi, Nathan berpesan agar tidak takut mencoba.

“Jangan takut mencoba. Mungkin kita merasa belum cukup baik, tetapi kita tidak akan pernah tahu sejauh mana kemampuan kita kalau tidak berani mengambil kesempatan. Teruslah belajar, berlatih, terbuka terhadap masukan, dan jangan mudah menyerah,” pesannya.

Nathan berharap dapat memberikan penampilan terbaik dalam GBN 2026, membawa nama Bali dengan bangga, serta mendapatkan pengalaman, ilmu, dan teman baru dari seluruh Indonesia.

Lebih dari itu, ia ingin terus berkembang di dunia musik dan menginspirasi lebih banyak anak muda untuk mencintai paduan suara. Apalagi, tahun ini ia baru akan memulai kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISIYK) Prodi Musik.

“Semoga setelah ini saya bisa terus berkembang di dunia musik, menginspirasi lebih banyak anak muda untuk mencintai paduan suara, dan terus membawa nama Bali maupun Indonesia melalui musik,” tandasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN