Sri Agung Wulandewi Putri Laksana. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kegagalan pada audisi pertama tidak membuat Sri Agung Wulandewi Putri Laksana menyerah mengejar impiannya. Setelah kembali mencoba untuk kedua kalinya, mahasiswi semester III Program Studi Musik Institut Seni Indonesia (ISI) Bali ini akhirnya berhasil meraih tiket ke tingkat nasional dan dipercaya mewakili Bali bersama 3 orang peserta lainnya dalam Pagelaran Paduan Suara dan Orkestra Gita Bahana Nusantara (GBN) 2026 di Jakarta.

Sri Agung Wulandari kelahiran Denpasar, 30 Juli 2007, lolos seleksi dengan nilai 1.269. Ia terpilih dalam kategori suara sopran dan akan bergabung bersama ratusan talenta muda dari berbagai daerah di Indonesia untuk tampil dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta.

Bagi Sri Agung Wulandari, keberhasilan tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi. Ada rasa bangga sekaligus tanggung jawab besar karena ia membawa nama Pulau Dewata di panggung nasional.

“Saya sangat senang, bahagia dan bangga, serta bersyukur bisa dipercaya mewakili Bali di GBN 2026 tingkat nasional,” ujarnya, Sabtu (1/8).

Ia menyadari, sejak dinyatakan lolos, dirinya tidak hanya membawa nama sendiri. Kepercayaan tersebut menjadi tugas yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.

“Bagi saya itu merupakan suatu tugas dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa nama Provinsi Bali,” katanya.

Perjalanan Sri Agung Wulandari menuju GBN 2026 tidak berlangsung instan. Tahun 2024 menjadi kali pertama dirinya mencoba mengikuti audisi GBN. Saat itu, ia belum berhasil lolos.

Menariknya, keikutsertaan pertama tersebut justru berawal dari dorongan sang ibu. Berbekal rasa penasaran, ia mengikuti audisi untuk mengetahui seperti apa proses seleksi GBN.

“Tahun ini adalah tahun kedua saya mencoba audisi GBN. Pertama kali mencoba tahun 2024, tetapi belum lolos. Itu pun atas dorongan dari ibu saya untuk ikut audisi. Modal nekat dan rasa ingin tahu seperti apa audisi GBN,” tuturnya.

Baca juga:  Promo "Back To School," Beli Motor Honda Makin Hemat

Pada 2025, Sri Agung Wulandari memilih tidak mengikuti audisi. Ia merasa masih perlu memperdalam kemampuan membaca notasi secara langsung atau primavista, salah satu kemampuan yang menurutnya sangat menentukan dalam proses seleksi GBN.

Keputusan itu kemudian menjadi bagian dari proses belajarnya. Setahun berselang, pada 2026, ia kembali mencoba setelah merasa lebih siap, terutama dalam penguasaan primavista.

“Di GBN ini penguasaan primavista yang lebih diutamakan. Tidak menjamin suara bagus lolos jika tidak dibarengi dengan primavista yang baik pula,” jelasnya.

Persiapan pun dilakukan secara serius selama beberapa bulan. Selain latihan vokal, ia memperbaiki teknik bernyanyi, pernapasan dan artikulasi, sekaligus melatih kepercayaan diri saat tampil. Kondisi tubuh dan suara juga dijaga agar tetap prima selama proses seleksi.

Baginya, tantangan terbesar bukan hanya soal kemampuan bernyanyi. Justru menjaga konsistensi selama persiapan menjadi pekerjaan yang tidak mudah.

Ia harus membagi waktu antara latihan, kegiatan lainnya, menjaga kesehatan, serta mempertahankan fokus di tengah ketatnya persaingan. Apalagi seluruh peserta yang mengikuti seleksi memiliki kemampuan yang mumpuni.

“Selama proses seleksi saya harus tetap latihan vokal, menjaga kondisi tubuh, mengatur waktu, dan tetap fokus walaupun ada kegiatan lain,” ujarnya.

Rasa minder pun sempat muncul. Ketika melihat kemampuan peserta lain yang luar biasa, Sri Agung Wulandari mengaku pernah mempertanyakan kemampuan dirinya sendiri, termasuk apakah nantinya mampu bernyanyi dengan baik di atas panggung dan menjawab soal primavista dengan lancar.

Namun, keraguan itu tidak dibiarkan berlarut. Ia kembali mengingat tujuan awal mengikuti seleksi, yakni belajar dan memberikan kemampuan terbaik. Dukungan keluarga, pelatih dan teman-teman serta doa menjadi kekuatan untuk terus melangkah.

Kunci lainnya adalah disiplin, konsistensi dan kemauan menerima setiap masukan dari pelatih. Saat seleksi berlangsung, ia berusaha tidak terlalu memikirkan hasil dan memilih menikmati proses penampilannya.

“Yang terpenting saya bisa tampil maksimal dan menunjukkan kemampuan terbaik yang saya punya,” katanya.

Baca juga:  SIM Keliling di Bali 17 November 2025, Cek Lokasinya

Pengalaman mengikuti seleksi GBN memberikan kesan berbeda bagi dirinya dibandingkan berbagai kegiatan bernyanyi yang pernah diikutinya. Menurut dia, GBN bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi ruang untuk belajar bekerja sama dan mengenal talenta-talenta muda dari berbagai daerah.

Lebih dari itu, GBN menjadi kesempatan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap Indonesia melalui musik. “Saya merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, bukan hanya sekadar mengikuti lomba,” ungkapnya.

Kini, kesempatan tampil bersama peserta terbaik dari seluruh Indonesia menjadi hal yang paling dinantikannya. Ia ingin memanfaatkan momen tersebut untuk belajar sebanyak-banyaknya, menambah pengalaman dan bertemu dengan orang-orang yang memiliki semangat yang sama di bidang musik.

“Menurut saya, itu akan jadi pengalaman yang sangat berharga dan mungkin cuma datang sekali seumur hidup,” ujarnya.

Sebagai wakil Bali, Sri Agung Wilulandari ingin menunjukkan bahwa generasi muda Pulau Dewata tidak hanya memiliki kekayaan budaya, tetapi juga memiliki talenta dan semangat untuk bersaing di tingkat nasional.

Ia pun bertekad membawa nama Bali dengan baik. Rasa tanggung jawab tentu ada, namun tidak ingin menjadikannya sebagai tekanan.

“Justru saya menjadikannya sebagai motivasi untuk terus berlatih dan memberikan penampilan terbaik. Saya percaya, selama saya sudah mempersiapkan diri dengan maksimal, hasilnya akan mengikuti,” katanya.

Keberhasilan Sri Agung Wulandari di GBN 2026 juga tidak terlepas dari perjalanan panjangnya di dunia musik. Ia merupakan alumni FLS2N SMK tahun 2023 dan saat itu meraih Penghargaan Khusus Juara Favorit I pilihan juri.

Ia juga tercatat sebagai penerima Beasiswa Unggulan tahun 2025 dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI.

Saat ini, musik tidak lagi sekadar menjadi hobi baginya. Sejak kecil menekuni bidang tersebut, ia telah menempatkan musik sebagai bagian penting dari perjalanan hidupnya. “Bagi saya, musik bukan hanya hobi, tapi juga tempat untuk mengekspresikan diri,” tuturnya.

Cita-citanya pun jelas. Ia ingin menjadi penyanyi profesional sekaligus menciptakan karya musik sendiri.

Baca juga:  Selama Covid-19, Banyak Anjing Peliharaan Ditelantarkan Pemiliknya

Dalam perjalanan tersebut, orang tua, keluarga dan pelatih menjadi sosok yang paling berjasa. Ia merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara, putri pasangan I Putu Heri Nurlaksana dan Cokorda Istri Sri Juni.

Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini memberikan dukungan, doa dan semangat. “Terima kasih sebesar-besarnya karena tanpa dukungan mereka, mungkin saya tidak akan sampai di titik ini,” katanya.

Perjalanan Sri Agung Wulandari di panggung nasional belum berhenti di GBN. Sepulang dari Jakarta nanti, tugas berikutnya sudah menanti. Ia akan kembali berlatih untuk mempersiapkan diri mengikuti Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) 2026.

Dalam ajang tersebut, ia dijadwalkan mengikuti lomba lagu keroncong yang berlangsung 8-12 September 2026 di Jember, Jawa Timur.

Targetnya di GBN sendiri bukan sekadar mendapatkan hasil terbaik. Ia ingin menikmati setiap proses, belajar dari pelatih dan peserta dari berbagai daerah, serta membawa pulang pengalaman yang dapat membuatnya berkembang sebagai penyanyi maupun pribadi.

Harapannya, pengalaman di GBN menjadi langkah awal untuk perjalanan yang lebih panjang di dunia musik.

“Saya berharap bisa memberikan yang terbaik selama mengikuti Gita Bahana Nusantara dan membawa nama Bali dengan bangga. Saya juga berharap pengalaman ini bisa menjadi langkah awal untuk terus berkembang di dunia musik. Semoga ke depannya saya bisa terus belajar, berkarya, dan menginspirasi teman-teman lain agar berani mengejar mimpi mereka,” ujarnya.

Kepada anak-anak muda Bali yang memiliki bakat bernyanyi atau bermusik tetapi masih ragu melangkah, Sri Agung berpesan agar tidak takut mencoba.

“Jangan takut untuk mencoba dan jangan minder dengan kemampuan kita. Semua orang pasti punya prosesnya masing-masing. Terus belajar, terus latihan, jangan mudah menyerah dan percaya sama diri sendiri. Kesempatan itu akan datang kalau kita mau berusaha dan terus berkembang. Yang paling penting, nikmati setiap prosesnya,” pungkasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN