
MANGUPURA, BALIPOST.com – Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad H.M. Ali, menekankan pentingnya konsolidasi organisasi, kedekatan dengan masyarakat, serta penghormatan terhadap budaya lokal dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) sekaligus Pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), Dewan Pimpinan Daerah (DPD), dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PSI se-Bali. Kegiatan tersebut digelar di The Trans Resort, Badung, Bali, Sabtu (24/1).
Dalam arahannya, Ahmad menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran pengurus PSI Bali yang baru dilantik. Ia juga menyoroti tingkat kehadiran pengurus yang mencapai 100 persen, menjadikan Bali sebagai provinsi ketiga secara nasional dengan tingkat kehadiran penuh setelah Kalimantan Barat dan DKI Jakarta.
“Saya bangga kepada seluruh pengurus PSI Bali. Kehadiran 100 persen ini menunjukkan solidaritas dan kesiapan kalian untuk bekerja membesarkan partai,” ujarnya.
Ia menegaskan Rakorwil merupakan agenda strategis partai menjelang pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI yang dijadwalkan berlangsung pada 29–31 Januari di Sulawesi Selatan. Menurutnya, Rakorwil bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari persiapan serius untuk konsolidasi partai menghadapi Pemilu.
Target PSI bukan hanya lolos ambang batas parlemen, tetapi mampu tampil sebagai partai kuat dan berpengaruh. “Cita-cita para pendiri partai hanya bisa diwujudkan jika PSI berada di parlemen. Konsolidasi yang solid adalah kuncinya,” tegasnya.
Dalam pandangannya, Bali merupakan salah satu daerah paling menantang secara politik karena kuatnya partai-partai yang telah mengakar lama. Namun demikian, ia optimis PSI Bali mampu menembus tantangan tersebut dengan semangat dan kerja keras kader di bawah kepemimpinan DPW PSI Bali.
“Bali ini daerah yang tidak mudah. Tapi saya percaya, dengan konsolidasi yang baik dan semangat kader, PSI bisa mempersembahkan kursi untuk DPR RI dari Bali,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan seluruh kader PSI Bali agar menjaga dan menghormati adat istiadat serta budaya lokal. Ia menegaskan kehadiran PSI tidak boleh dipersepsikan sebagai ancaman terhadap budaya Bali, melainkan harus memperkuat dan merawatnya.
“PSI tidak datang untuk mengubah budaya Bali. Justru kehadiran PSI harus memperkuat budaya yang sudah ada. Bali dikenal dunia bukan karena sumber daya alamnya, tetapi karena kekuatan budayanya,” katanya.
Ia berpesan agar kader PSI tidak merasa paling tahu soal adat istiadat Bali, dan selalu melibatkan tokoh adat serta orang-orang tua dalam setiap langkah sosial dan politik.
“Jangan sekali-kali merasa lebih tahu dari orang-orang tua. Kalau ragu, datang dan bertanyalah. Kesalahan kecil soal adat bisa menjadi persoalan besar, apalagi di era media sosial,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan PSI di Bali sangat ditentukan oleh kemampuan kader membawa diri, membangun hubungan dengan tokoh masyarakat, serta menunjukkan sikap rendah hati dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
“PSI harus hadir bukan hanya saat pemilu. Jadilah orang baik bukan karena mendekati pemilihan, tapi karena memang karakternya baik. Memberi manfaat dengan hati, perhatian, dan kepedulian,” ujarnya.
Menutup arahannya, ia menegaskan PSI harus menjadi partai yang memberi kemanfaatan nyata bagi masyarakat. Jika nilai-nilai tersebut dijalankan secara konsisten, ia optimistis PSI Bali akan tumbuh menjadi partai yang dipercaya dan menjadi harapan masyarakat Bali ke depan. (Ketut Winata/balipost)








