Salah satu kasus kebakaran yang terjadi di wilayah Kabupaten Tabanan. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Kasus kebakaran di Kabupaten Tabanan hingga pertengahan 2026 menunjukkan tren meningkat. Dari data Satpol PP kabupaten Tabanan bidang  penanggulangan kebakaran tercatat jumlah kejadian naik sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kebakaran masih didominasi bangunan permukiman dan tempat usaha, dengan dugaan penyebab terbanyak berasal dari korsleting listrik.

Kepala Bidang Penanggulangan Kebakaran Satpol PP Kabupaten Tabanan, I Wayan Suakta, S.Sos., mengatakan peningkatan kejadian dipengaruhi sejumlah faktor. Selain bertambahnya jumlah bangunan dan meningkatnya kepadatan penduduk, cuaca panas akibat fenomena El Nino sebelumnya juga turut menambah potensi terjadinya kebakaran.

Baca juga:  Diduga Karena Bakar Sampah, Lahan di Delod Berawah Dilalap Si Jago Merah

“Terjadi kenaikan sekitar 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain pertumbuhan bangunan dan jumlah penduduk, musim yang semakin panas juga menjadi salah satu faktor meningkatnya potensi kebakaran,” ujarnya, Minggu (12/7).

Dari data jumlah kasus kebakaran tersebut objek yang terbakar cukup beragam, mulai rumah tinggal, dapur, warung, gudang, pabrik, kandang ayam, pasar, kendaraan, hingga lahan kosong. Bahkan kebakaran juga beberapa kali terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mandung akibat gas metana yang muncul dari timbunan sampah.

Dimana untuk kejadian yang tercatat, dugaan korsleting listrik menjadi penyebab yang paling banyak teridentifikasi. Selain itu, petugas juga menemukan sejumlah penyebab lain seperti kebocoran tabung gas, gas metana di TPA, puntung rokok, pembakaran jerami, serta dupa yang memicu api. Meski demikian, sebagian besar kasus masih berstatus dalam penyelidikan sehingga penyebab pasti belum dapat dipastikan.

Baca juga:  Udara di Bali Lebih Dingin Saat Malam, BBMKG Sebut Fenomena Ini Penyebabnya

Tak hanya itu saja, sejumlah kebakaran mengakibatkan kerugian material yang tidak sedikit. Beberapa di antaranya mencapai ratusan juta rupiah, bahkan miliaran rupiah, seperti kebakaran pabrik styrofoam di wilayah Kediri dan kawasan vila di Desa Nyambu. Selain kerugian materiil, beberapa peristiwa juga menyebabkan korban mengalami luka bakar.

Menurut Suakta, meningkatnya intensitas cuaca panas juga kerap menjadi perhatian serius karena dapat mempercepat penyebaran api, terutama pada lahan kering maupun bangunan yang menyimpan material mudah terbakar. Karena itu, masyarakat diimbau lebih waspada dengan rutin memeriksa instalasi listrik, tidak membakar sampah sembarangan, serta memastikan kompor maupun peralatan listrik dalam kondisi aman sebelum ditinggalkan.

Baca juga:  Api Belum Padam di TPA Suwung

“Pencegahan merupakan langkah paling penting. Kami mengajak masyarakat lebih peduli terhadap potensi kebakaran di lingkungan masing-masing dan segera melaporkan apabila terjadi kebakaran agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin,” pungkasnya. (Dewi Puspawati/balipost)

BAGIKAN