
DENPASAR, BALIPOST.com – Warga di Kota Denpasar dan beberapa wilayah lain di Bali mulai merasakan suhu udara yang lebih dingin pada malam dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini terutama terasa saat menjelang pagi, meski pada siang hari cuaca masih cenderung panas dan cerah.
Prakirawan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Brian Eko Permadi, menjelaskan fenomena tersebut merupakan kondisi yang umum terjadi saat memasuki puncak musim kemarau.
Menurutnya, suhu udara yang terasa lebih dingin pada malam hari biasanya terjadi pada periode Juni, Juli, hingga Agustus. Kondisi ini dipengaruhi oleh gerak semu tahunan matahari dan aktifnya Monsun Australia.
“Pada periode ini posisi matahari berada di Belahan Bumi Utara, sehingga wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa seperti Bali mengalami defisit penyinaran matahari,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (29/5) malam.
Ia menjelaskan, saat bersamaan Benua Australia tengah mengalami musim dingin dengan tekanan udara relatif tinggi. Kondisi itu memicu pergerakan massa udara dingin dari Australia menuju Indonesia, termasuk melintasi Bali dan wilayah sekitarnya.
Selain faktor angin monsun, kondisi langit yang cenderung cerah dengan minim tutupan awan juga memperkuat rasa dingin pada malam hari. Menurut Brian, awan yang sedikit membuat panas radiasi matahari yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat dilepas kembali ke atmosfer.
Akibatnya, suhu udara di dekat permukaan bumi menjadi lebih rendah, terutama pada malam hingga pagi hari. Fenomena ini umumnya akan lebih terasa di wilayah dataran tinggi, namun belakangan juga mulai dirasakan masyarakat di kawasan perkotaan seperti Denpasar.
BBMKG mengimbau masyarakat menjaga kondisi kesehatan, terutama pada malam dan dini hari ketika suhu udara terasa lebih dingin dibanding biasanya. Perubahan suhu yang cukup signifikan antara siang dan malam juga berpotensi memicu gangguan kesehatan seperti flu dan batuk apabila daya tahan tubuh menurun. (Ketut Winata/balipost)










