
DENPASAR, BALIPOST.com – Menjelang peringatan 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, kisah awal berkembangnya industri pariwisata modern di Pulau Dewata kembali diangkat sebagai bahan refleksi. Tokoh senior pariwisata Bali, Ida Bagus Ngurah Wijaya, mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk tidak melupakan sejarah panjang yang menjadi fondasi kemajuan pariwisata Bali saat ini.
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) “Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali” yang diselenggarakan Institut Seni Indonesia (ISI) Bali bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI Bali, Senin (13/7).
Ngurah Wijaya mengingatkan bahwa perkembangan pariwisata Bali yang begitu pesat saat ini harus tetap memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat lokal. Ia menilai dominasi pelaku usaha dari luar Bali menjadi tantangan yang perlu disikapi melalui kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan.
“Saya melihat sekarang orang Bali sedikit sekali mendapat dampak positifnya. Banyak dilakukan oleh pelaku-pelaku luar. Ini sangat kami sayangkan. Mudah-mudahan ke depan ada pembatasan sehingga Bali yang kecil ini bisa lebih sustain pariwisatanya,” tegasnya.
Dalam paparannya, mantan Ketua Bali Tourism Board (BTB) periode 2007–2016 itu menegaskan dirinya hadir bukan sebagai akademisi, melainkan sebagai saksi hidup perjalanan pariwisata Bali sejak dekade 1950-an.
“Saya tidak punya keahlian apa-apa. Saya hanya sebagai saksi perjalanan pariwisata ini dari tahun 50-an sampai sekarang,” ujarnya.
Ngurah Wijaya mengisahkan peran ayahnya, Ida Bagus Kompyang, seorang veteran sekaligus pionir pariwisata Bali yang mendirikan Segara Village Hotel di Sanur pada 1956. Saat itu, keputusan membangun hotel di kawasan pantai justru menuai banyak kritik karena masyarakat masih berpandangan hotel seharusnya berada di pusat kota.
Namun, keberanian tersebut menjadi tonggak lahirnya kawasan Sanur sebagai salah satu embrio pariwisata modern di Bali.
Menurutnya, ayahnya juga dipercaya Presiden Soekarno untuk bergabung dalam Dewan Pariwisata Indonesia dan memimpin misi kebudayaan Indonesia ke berbagai negara. Berbagai kelompok seni Bali dibawa tampil ke Jepang, Singapura, Hong Kong hingga Rusia menggunakan kapal Tampomas sebagai media promosi budaya Indonesia di luar negeri.
“Orang tua saya sering ditugaskan membawa kesenian Bali ke luar negeri. Dari situlah budaya Bali mulai dikenal dunia,” kenangnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pada 1963 Hotel Segara diambil alih pemerintah atas permintaan Presiden Soekarno sebagai bagian dari pembangunan Hotel Bali Beach. Meski kehilangan hotel keluarga, ayahnya kemudian dipercaya menjadi direktur pertama Bali Beach Hotel.
Dari sinilah, kata Ngurah Wijaya, lahir banyak tenaga kerja perhotelan lokal yang kemudian menyebar dan menjadi penggerak berkembangnya hotel-hotel di Sanur, Kuta hingga berbagai daerah lainnya di Bali.
“Saya melihat Bali Beach seperti sekolah perhotelan pertama di Bali. Banyak orang Bali belajar di sana, lalu berkembang dan membangun hotel-hotel sendiri,” katanya.
Selain membangun industri perhotelan, ia juga mengenang transformasi Sanur yang dulunya merupakan kampung nelayan dan pusat pembakaran batu karang untuk menghasilkan kapur bangunan.
Bersama pemerintah desa saat itu, ayahnya turut mendorong pembentukan Yayasan Pembangunan Sanur (YPS) dan berbagai badan usaha desa guna mengalihkan mata pencaharian masyarakat dari penambangan karang menuju sektor pariwisata.
“Sanur dulu gelap karena asap pembakaran karang. Melalui pembangunan desa dan pariwisata, masyarakat perlahan beralih profesi sehingga lingkungan ikut terjaga,” jelasnya.
Pada era 1970-an, ayahnya juga ikut membantu penataan homestay di Kuta yang saat itu mengalami keterpurukan. Melalui pendampingan manajemen dan pembentukan konsorsium, usaha-usaha akomodasi masyarakat akhirnya mampu bangkit sebelum dikembalikan kepada pemilik masing-masing. (Ketut Winata/balipost)










