Karyawan memperlihatkan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis sore (4/6) ditutup melemah 0,46 persen menjadi Rp18.049 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.966 per dolar AS.

Dilansir dari Kantor Berita Antara, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membebani pergerakan rupiah.

Dari eksternal, investor cenderung berhati-hati di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

”Washington mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Rabu malam, meskipun kesepakatan tersebut bergantung pada penghentian permusuhan oleh Hizbullah,” ujar Ibrahim di Jakarta.

Ketegangan juga dipicu laporan serangan rudal Iran ke Kuwait dan Bahrain serta serangan AS terhadap Pulau Qeshm di Iran yang berada dekat Selat Hormuz.

Baca juga:  Jokowi Terima Surat Undangan Pencoblosan Pemilu 2024

Di sisi lain, Israel dilaporkan memperluas operasi militernya di Lebanon selatan dengan menargetkan wilayah yang dikuasai Hizbullah.

Di AS, DPR yang dikuasai Partai Republik menyetujui resolusi untuk membatasi Presiden Donald Trump melanjutkan konflik militer dengan Iran. Namun, agar berlaku, resolusi tersebut masih memerlukan persetujuan Senat serta dukungan mayoritas dua pertiga suara di kedua kamar untuk mengesampingkan potensi veto presiden.

Pelaku pasar juga menantikan rilis data ketenagakerjaan AS, terutama laporan non-farm payrolls yang akan diumumkan pada Jumat.

Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap dampak lonjakan harga minyak mentah terhadap fiskal dan sektor eksternal Indonesia.

Menurut dia, harga minyak yang tinggi berpotensi mendorong defisit fiskal mendekati batas 3 persen serta menekan neraca eksternal.

Baca juga:  Dari Prosesi Puncak Palebon Ida Cokorda Pemecutan XI hingga Nasional Catat Tambahan Ribuan Kasus COVID-19

Selain itu, pasar juga mencermati kemungkinan meningkatnya intervensi pemerintah di sektor komoditas dan belum adanya kepastian terkait status klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI.

Data perdagangan April juga menunjukkan surplus neraca perdagangan mulai menyusut karena kenaikan impor minyak yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekspor.

Sementara, inflasi pada Mei tercatat naik menjadi 3,08 persen, melampaui titik tengah target Bank Indonesia (BI) akibat kenaikan harga barang impor.

Sentimen lain datang dari pemeringkatan PT Danantara Investment Management oleh Moody’s Ratings. Lembaga pemeringkat tersebut memberikan peringkat Baa2 untuk program global medium-term note yang akan diterbitkan perusahaan tersebut.

Namun, Moody’s menetapkan prospek (outlook) negatif terhadap peringkat Danantara Investment Management. Menurut Moody’s, penilaian itu mencerminkan keterkaitan yang kuat antara Danantara Investment Management, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, dan Pemerintah Indonesia sebagai pemegang saham penuh.

Baca juga:  Nita Mauladi, Mengubah Kain Tradisional Menjadi Busana Internasional

Terkait outlook negatif tersebut, Moody’s menilai penilaian ini berdasarkan kaitan kuat antara Danantara Investment Management, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, dan Pemerintah Indonesia sebagai pemilik penuh Danantara.

“Dalam jangka panjang, peringkat tersebut kemungkinan akan bergerak sejalan dengan peringkat sovereign Indonesia. Peringkat Danantara Investment Management bisa turun, jika peringkat soveregin Indonesia melemah,” ujar Ibrahim.

Adapun Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan berikutnya masih bergerak fluktuatif, namun berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp18.050 – Rp18.120 per dolar AS. (kmb/balipost)

BAGIKAN