Warga wilayah perkotaan memanfaatkan layanan dropping point atau titik pengumpulan sampah anorganik, di sebelah lapangan Tenis, jalan Darmawangsa, Tabanan, Jumat (15/5). (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Pemilahan sampah di tingkat masyarakat mulai berjalan di Kabupaten Tabanan. Namun, persoalan baru muncul karena warga masih kebingungan membawa sampah anorganik yang sudah dipilah. Tidak semua desa memiliki bank sampah dan tidak semua bank sampah aktif.

Kondisi ini mendorong kolaborasi Komunitas Tabanan Lovers (Talov), Patradesa, TPS 3R Sadu Kencana membuka dropping point atau titik pengumpulan sampah anorganik di sejumlah titik keramaian Kota Tabanan. Pada hari pertama, Jumat (15/5), kegiatan dipusatkan di Jalan Dharmawangsa atau sebelah timur Kantor Bupati Tabanan.

Perwakilan Patradesa, Agus Sumberdana yang akrab dipanggil Gus Tulang mengatakan, kegiatan tersebut merupakan ide spontan yang baru disosialisasikan sehari sebelumnya. Meski demikian, antusiasme masyarakat dinilai cukup tinggi.

“Sebenarnya ini ide spontan dan baru disosialisasikan H-1. Tapi hari ini antusias warga sangat positif. Kurang lebih ada belasan warga yang membawa sampah mereka ke sini,” ujarnya.

Baca juga:  Lima Desa di Bangli Gelar Pilkel, Ini Hasilnya

Menurut Gus Tulang, kegiatan tersebut menjadi solusi sementara bagi masyarakat yang sudah mulai memilah sampah dari rumah, namun belum mengetahui harus dibawa ke mana, khususnya sampah anorganik. Perubahan perilaku masyarakat itu, menurutnya, harus diikuti dengan sistem penanganan di tingkat kabupaten.

“Warga sudah mulai memilah, tapi bingung sampah anorganik mau dibawa ke mana. Harapannya nanti pemda bisa menindaklanjuti dengan sistem pengangkutan terjadwal, misalnya hari tertentu khusus mengambil sampah anorganik dari warga,” katanya.

Tidak hanya menerima dan menimbang sampah, pihaknya juga memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pemilahan lanjutan sampah anorganik. Sebab, sampah anorganik masih memiliki nilai jual berbeda-beda tergantung jenis dan jalur penyalurannya. “Kami sekalian edukasi bahwa anorganik itu masih bisa dipilah lagi dan nilainya berbeda-beda,” tegasnya.

Baca juga:  Sebelum Berpulang, Ketua MDA Tabanan Wayan Tontra Sempat Buat Album Foto

Selama 2 jam pelaksanaan di hari pertama, pihaknya berhasil mengumpulkan 36,15 kilogram sampah anorganik, 13,75 kilogram residu, 3,75 kilogram sampah organik, dan 0,75 kilogram sampah B3 atau medis. Seluruh sampah yang terkumpul selanjutnya dibawa ke TPS 3R Sadu Kencana di Desa Dauh Peken, Kecamatan Tabanan.

Untuk hari kedua, kegiatan dilaksanakan Sabtu (16/5), di Jalan Parkit atau pintu selatan Gedung Kesenian I Ketut Marya. Sedangkan hari ketiga, Minggu (17/5), dipusatkan di kawasan Lapangan Alit Saputra atau Lapangan Dangin Carik. Kegiatan berlangsung pukul 08.00 hingga 10.00 WITA dan sementara menyasar wilayah Kota Tabanan.

Baca juga:  Percepat Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber di Seluruh Desa, Pemkab Badung Kerahkan ASN

Ke depan, pihak penyelenggara berencana menggelar roadshow ke sejumlah wilayah lain di Kabupaten Tabanan, tergantung hasil evaluasi program. Mereka juga berharap konsep dropping point tersebut dapat diadopsi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tabanan agar masyarakat tidak lagi kebingungan membuang sampah anorganik yang sudah dipilah. “Kami harap nanti ada dropping point seperti ini secara berkelanjutan,” ujar Gus Tulang.

Salah seorang warga Banjar Taman Sari, Muhammad Kadir mengaku mengetahui program tersebut melalui grup WhatsApp Posyandu. Ia menilai kegiatan itu sangat membantu masyarakat yang masih belum memahami pemilahan sampah dengan benar.

“Tanggapan saya sangat baik. Banyak masyarakat belum paham pemilahan yang benar. Harapannya bisa berkelanjutan supaya warga tidak lagi buang sampah sembarangan ke selokan,” ujarnya. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN