
DENPASAR, BALIPOST.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Denpasar mencatat 11 kasus bunuh diri (bundir) sepanjang tahun 2024. Di Bali sendiri kasus bunuh diri tergolong tinggi, mencapai 3,07 per 100.000 penduduk sehingga menjadi perhatian serius pemerintah dan masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, dr. Anak Agung Ayu Agung Candrawati, saat diwawancarai Selasa (5/5) mengatakan, depresi, ansietas, dan skizofrenia merupakan tiga gangguan mental dengan prevalensi tertinggi di Indonesia.
“Depresi dan ansietas dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius, termasuk keinginan untuk mengakhiri hidup,” katanya.
Dengan itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Candrawati mengatakan, salah satu metode yang dapat digunakan sebagai upaya menekan kasus bunuh diri pada orang berisiko adalah akupresur. “Metode ini dipercaya dapat membantu melancarkan aliran energi, meredakan ketegangan, serta memberikan efek relaksasi,” paparnya.
Namun akupresur bukanlah pengganti penanganan medis atau psikologis, metode ini adalah pelengkap. Selain itu, di Denpasar juga ada inovasi Pos Prana Jiwa yang kini dilaksanakan Puskesmas III Denpasar Utara.
Kader Pos Prana Jiwa ini tersebar di desa dan kelurahan. Melalui kader ini akan mampu memberikan kontribusi dalam upaya deteksi dini, edukasi, serta pendampingan masyarakat terkait kesehatan mental. Inovasi ini bisa menekan angka bunuh diri yang cukup tinggi.
Tak hanya itu, dr. Agung Candrawati mengajak masyarakat untuk hilangkan stigma terhadap masalah kesehatan mental. “Semua harus menciptakan lingkungan yang lebih peduli, lebih terbuka, dan lebih suportif. Satu perhatian kecil, satu sapaan hangat, bisa menjadi penyelamat bagi mereka,” katanya. (Widiastuti/balipost)










