
SINGASANA, BALIPOST.com – Program Semara Ratih yang digagas Pemerintah Kabupaten Tabanan terbukti mampu menekan angka stunting melalui intervensi dari hulu. Hingga tahun 2025, prevalensi stunting di Tabanan tercatat turun menjadi 2,75 persen dari total 21.079 balita sasaran.
Capaian tersebut ditopang konsistensi pelaksanaan konseling pranikah sejak program ini diluncurkan pada 23 November 2022. Setiap calon pengantin diwajibkan mengikuti edukasi sebelum menikah sebagai langkah preventif membangun keluarga sehat sekaligus menekan risiko stunting sejak dini.
PLT Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Tabanan, Ni Wayan Dewi Sariati, menyebutkan sejak diluncurkan hingga kini sebanyak 3.495 pasangan telah mengikuti program tersebut. Seluruh layanan diberikan secara gratis dan dapat diakses melalui TPK di masing-masing desa.
Dalam implementasinya, program ini melibatkan Tim Pendamping Keluarga (TPK) di tingkat desa yang terdiri dari bidan, kader PKK, kader KB, serta unsur Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan tokoh adat maupun agama. Mereka memberikan edukasi kesehatan reproduksi, pola pengasuhan, hingga deteksi dini risiko stunting berbasis surveilans keluarga.
Selain pembekalan, pasangan yang telah mengikuti konseling memperoleh sertifikat siap nikah dan siap hamil. Pemerintah juga memfasilitasi penerbitan dokumen kependudukan seperti Kartu Keluarga, KTP elektronik, dan akta perkawinan yang diserahkan langsung pada hari pernikahan.
Lonjakan pemanfaatan program ini terlihat pada periode 20–25 Maret 2026, seiring meningkatnya pernikahan pada dewasa ayu. Tercatat 104 pasangan pengantin mengikuti layanan Semara Ratih dalam kurun waktu tersebut.
Salah satu pasangan peserta, Pasek Nuadha dan Cahya, mengaku memperoleh banyak manfaat dari program ini. “Kami jadi lebih siap membangun keluarga, bukan hanya dari sisi administrasi, tetapi juga pemahaman kehidupan berumah tangga,” ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, menegaskan Semara Ratih bukan sekadar layanan administratif, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas generasi. “Melalui edukasi pranikah yang komprehensif, pasangan dipastikan siap secara fisik, mental, dan sosial. Ini menjadi langkah strategis untuk mencegah stunting sejak dini,” ujarnya.
Ia menambahkan, program ini juga disinergikan dengan gerakan pelestarian lingkungan, di mana setiap pasangan pengantin diwajibkan menanam satu pohon sebagai simbol komitmen membangun kehidupan berkelanjutan. “Ini bukan hanya tentang keluarga, tetapi juga kepedulian terhadap alam sebagai warisan generasi mendatang,” tegasnya. (Dewi Puspawati/balipost)










