Seniman duta Kota Denpasar menampilkan seni Tari Tedung Sari pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII di Taman Budaya, Denpasar, Selasa (8/7). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 tahun 2026 menghadirkan terobosan baru yang langsung menyasar persoalan klasik, yaitu keterlambatan pembayaran honor seniman. Tahun ini, penyelenggaraan PKB akan melibatkan Event Organizer (EO) untuk pertama kalinya, dengan fokus utama mempercepat administrasi dan meningkatkan kenyamanan pelaku seni.

Kepala Dinas Kebudayaan (Dinkes) Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, mengakui perubahan ini merupakan hasil evaluasi dari pelaksanaan tahun sebelumnya. Di mana, banyak seniman harus menunggu lama usai tampil untuk menerima haknya.

Baca juga:  Genta Nusantara III Gelar Temu Budaya di Badung, Diikuti Ratusan Seniman dan Budayawan

“Setelah tampil, seniman cukup lama menunggu pembayaran. Itu yang kita benahi sekarang dengan melibatkan EO agar prosesnya lebih cepat,” ujarnya, Senin (4/5).

Menurutnya, langkah ini bukan sekadar pembenahan teknis, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap seniman sebagai ruh utama PKB yang tahun ini mengusung tema Atma Kerti: Jiwa Sidha Parisudha.

Dengan keterlibatan EO, pengelolaan panggung, pencahayaan, hingga tata suara diharapkan lebih profesional. Namun yang paling krusial, sistem administrasi dan pencairan honor akan dipercepat melalui mekanisme yang lebih terstruktur. “Seniman tetap menerima haknya sesuai ketentuan, bahkan lebih cepat. Itu yang ingin kita capai,” tegasnya.

Baca juga:  KPAD Prihatin Ratusan Siswa SMP di Buleleng Tak Bisa Baca

Dalam skema baru ini, EO juga memiliki kewenangan teknis, termasuk dalam pengelolaan alur pembayaran, sehingga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada birokrasi pemerintah yang kerap memakan waktu.

Selain itu, Pemprov Bali menekankan bahwa penggunaan EO dilakukan melalui mekanisme resmi, yakni e-purchasing berbasis e-katalog, sehingga tetap sesuai aturan pengadaan barang dan jasa pemerintah. “Kita tidak menunjuk langsung. Semua lewat sistem e-katalog, jadi transparan dan sesuai regulasi,” jelasnya.

Baca juga:  Dari Taman Edelweis Kebakaran hingga Korupsi Dana KUR Dipakai Dugem

Meski belum merinci besaran anggaran untuk kerja sama tersebut, pihaknya memastikan seluruh skema pembiayaan tetap berada dalam koridor aturan yang berlaku.

Perubahan ini diharapkan mampu mengubah wajah PKB menjadi lebih profesional tanpa menghilangkan nilai budaya yang menjadi identitas utama. Lebih dari itu, kenyamanan dan penghormatan terhadap seniman kini menjadi prioritas utama. “Yang terpenting, seniman merasa lebih dihargai, lebih nyaman. Itu tujuan kita,” pungkasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN