
MANGUPURA, BALIPOST.com – Peran undagi lokal dalam Festival Ogoh-Ogoh Badung 2026 tidak hanya memperkuat kualitas karya, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi sekaa teruna dan yowana di Kabupaten Badung. Festival yang digelar menjelang Hari Raya Nyepi ini berkembang sebagai wahana pembinaan seni rupa sekaligus proses regenerasi seniman muda Bali.
Sejak dua bulan terakhir, yowana yang tergabung dalam Sekaa Teruna Teruni (STT) di berbagai desa dan banjar di Badung mulai menggarap ogoh-ogoh dengan semangat kreativitas tinggi. Proses penciptaan karya melibatkan seniman serta undagi lokal, sehingga para yowana dapat belajar langsung dari pelaku seni di daerahnya sendiri.
Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Badung, I Nyoman Graha Wicaksana, mengapresiasi konsistensi Pemerintah Kabupaten Badung di bawah kepemimpinan Bupati Wayan Adi Arnawa yang mendorong keterlibatan undagi lokal melalui Dinas Kebudayaan dalam Festival Ogoh-Ogoh Badung 2026.
Menurut Graha Wicaksana, kebijakan tersebut memiliki nilai edukatif yang kuat karena membuka ruang belajar, berproses, dan berkreasi bagi generasi muda secara berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa festival ini tidak semata-mata menjadi ajang kompetisi.
“Kami di DPRD Badung sangat mendukung pelaksanaan Festival Ogoh-Ogoh yang mengutamakan seniman, kreator, dan undagi yang berasal dari Kabupaten Badung. Ini bukan sekadar lomba, tetapi bagian dari proses pendidikan budaya dan regenerasi seniman lokal,” ujar Graha Wicaksana pada Senin (19/1).
Ia menilai keterlibatan langsung yowana dalam penggarapan ogoh-ogoh mampu melatih kreativitas, kedisiplinan, kerja sama, serta memperdalam pemahaman terhadap filosofi seni dan budaya Bali yang adiluhung.
“Kami berharap, beberapa tahun ke depan akan tumbuh seniman, kreator, dan undagi unggulan di setiap banjar. Festival ini menjadi wadah pembinaan yang sangat strategis untuk mencetak SDM kebudayaan Badung,” imbuhnya.
Pandangan serupa disampaikan undagi muda asal STT Yuwana Giri, Banjar Tegal Kuta, I Made Adi Dwi Cahaya Putra atau De Adi. Ia menilai kebijakan yang mewajibkan keterlibatan undagi lokal memberikan dampak positif terhadap kemandirian dan kualitas kreativitas STT.
“Sebenarnya di Badung banyak bibit seniman dan undagi. Namun karena sebelumnya belum banyak ruang dan kesempatan, potensi itu belum terlihat. Dengan adanya kebijakan ini, kreativitas di masing-masing STT semakin berkembang,” ungkapnya.
De Adi menjelaskan, seluruh proses penggarapan ogoh-ogoh di STT Yuwana Giri dilakukan secara mandiri, mulai dari perumusan konsep hingga tahap finishing dan detail aksesoris.
“Proses ini menjadi sarana belajar langsung bagi yowana, sehingga ke depan mereka tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga pelaku seni yang berdaya saing,” katanya.
Sebagai dukungan konkret, Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kebudayaan mengalokasikan dana motivasi sebesar Rp 40 juta untuk setiap STT di seluruh Badung. Bantuan tersebut diharapkan mampu mendorong kreativitas sekaligus menjaga kualitas seni ogoh-ogoh agar tetap berakar pada nilai budaya lokal.
Dengan pendekatan edukatif dan pembinaan berkelanjutan, Festival Ogoh-Ogoh Badung 2026 diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat ekosistem seni budaya serta melahirkan generasi undagi lokal yang unggul, mandiri, dan berkarakter. (Parwata/balipost)









