Kreativitas Pemuda Liligundi, Ogoh-Ogoh “Byuta Semarantaka” Siap Ramaikan Pengerupukan hampir rampung. (BP/Yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Pemuda Banjar Liligundi melalui Sekaa Teruna Teruni (STT) Abhirama Devari menyiapkan ogoh-ogoh bertema “Byuta Semarantaka” untuk meramaikan malam Pengerupukan menjelang Hari Raya Nyepi 2026.

Ogoh-ogoh yang menampilkan sosok bhuta atau raksasa berkepala banyak ini merupakan garapan pemuda Liligundi yang diinisiasi oleh arsitek muda, Ida Bagus Bayu Aditya. Pengerjaan ogoh-ogoh tersebut melibatkan para pemuda setempat sejak Februari lalu.

Baca juga:  Antisipasi PMK dan Antraks, Sapi Luar Bali Tetap Dilarang Masuk Bali

Ketua STT Abhirama Devari, Ida Bagus Eka Permana pada Kamis (5/3) mengatakan pembuatan ogoh-ogoh ini sebagai bentuk partisipasi pemuda dalam parade ogoh-ogoh yang diselenggarakan desa adat, sekaligus mengikuti lomba ogoh-ogoh secara daring dari komunitas Bli Braya.

“Ogoh-ogoh ini dibuat dengan anggaran sekitar Rp25 juta. Proses pengerjaan dimulai sejak Februari dengan melibatkan seluruh pemuda di banjar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tema Byuta Semarantaka diangkat sebagai simbol refleksi diri manusia. Sosok bhuta tersebut digambarkan sebagai manifestasi energi kasar yang muncul ketika manusia mulai dikuasai oleh nafsu, amarah, dan keserakahan.

Baca juga:  Puncak Pelebon Cokorda Istri Rai Dharmawati, Berikut Pengalihan Arus Lalin di Ubud

“Byuta Semarantaka digambarkan sebagai cerminan dari diri manusia. Api yang menyala di tubuhnya melambangkan hawa nafsu, taringnya sebagai simbol amarah, sementara teriakannya menggambarkan ego yang tidak terkendali,” jelasnya.

Menurutnya, sosok tersebut bukan digambarkan sebagai penghancur, melainkan sebagai pengingat agar manusia mampu mengendalikan diri. Dalam filosofi yang diangkat, kehancuran justru menjadi awal kesadaran untuk kembali menjaga keseimbangan alam dan kehidupan.

“Melalui ogoh-ogoh ini kami ingin menyampaikan pesan bahwa Byuta Semarantaka bukan musuh manusia, melainkan simbol penjaga keseimbangan yang lahir dari kelalaian manusia itu sendiri,” tambahnya. (Yudha/balipost)

Baca juga:  Pengaturan Lalin Pawai Ogoh-Ogoh Diserahkan ke Pecalang dan Aparat Desa

 

BAGIKAN