
DENPASAR, BALIPOST.com – Suasana pesisir Serangan menjadi ramai dikunjungi saat pelaksanaan bazar digelar selama dua hari, 2–3 Mei 2026, di kawasan KEK Kura-Kura Bali. Bertempat di UID Bali Campus, kegiatan yang digelar mulai pukul 16.00-21.00 WITA ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang menghabiskan liburannya di Bali.
Pelaku UMKM Serangan, Kadek Erni, menyebut kegiatan ini merupakan peluang strategis untuk memperkenalkan kuliner khas daerah kepada pengunjung yang lebih luas.
Selain itu, konsep ramah lingkungan turut diterapkan dengan mengurangi penggunaan plastik. Acara ini juga inklusif, terbuka untuk semua kalangan, termasuk pengunjung yang membawa hewan peliharaan.
Mengusung tema “Bali Revival”, menurut penyelanggara kegiatan ini, Zefri Alfaruqy, bazar tak sekadar menghadirkan aktivitas jual beli. Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah interaksi antara pelaku UMKM, seniman, hingga komunitas lokal dalam suasana santai khas pesisir.
Zefri yang menjabat sebagai Head of Department Kura-Kura Bali ininmengungkapkan pihaknya menargetkan 3.000 pengunjung selama dua hari pelaksanaan. Angka ini meningkat dari penyelenggaraan perdana pada Februari lalu yang mencapai sekitar 2.200 pengunjung.
“Untuk edisi kedua ini ada sekitar 70 tenant, terdiri dari 30 F&B, 10 workshop, dan 30 retail. Kami tidak menetapkan target transaksi, yang penting sebanyak-banyaknya dan memberi manfaat bagi tenant,” ujarnya, Sabtu (2/5).
Dari sisi konsep, edisi kali ini menonjolkan nuansa budaya Bali yang lebih kuat dan interaktif. Pengunjung dapat mencoba sesi foto busana adat Bali, hingga belajar langsung Tari Kecak bersama komunitas seni.
Pertunjukan kecak yang digelar menjelang malam menjadi magnet utama, dipadukan dengan penampilan musik tradisional, komunitas lokal, hingga DJ yang menghidupkan suasana.
Warga dan UMKM Serangan juga turut dilibatkan. Salah satunya pengolahan sampah plastik menjadi produk bernilai guna seperti gantungan kunci hingga perlengkapan acara.
“Ini bagian dari kolaborasi kami dengan warga Serangan, bagaimana sampah bisa diolah menjadi produk yang bermanfaat, sekaligus mendukung ekonomi lokal,” jelasnya.
Tak hanya hiburan, pengalaman unik juga ditawarkan melalui aktivitas menyusuri kanal menggunakan jukung, memberi sentuhan autentik kehidupan pesisir Bali. Di sisi lain, workshop kreatif membuka ruang interaksi langsung antara pengunjung dan pelaku seni maupun kreator lokal.
Dari sektor kuliner, ragam sajian lokal hingga kekinian tersaji, berdampingan dengan produk UMKM seperti kerajinan tangan, fesyen, dan produk ramah lingkungan. Seluruh tenant melalui proses kurasi untuk menjaga kualitas dan keberagaman produk. (Ketut Winata/balipost)









