Petugas sedang membersihkan keris peninggalan yang berkaitan dengan sejarah Puputan Badung di Museum Bali, Denpasar, Jumat (17/4). Pembersihan ini dilakukan serangkaian hari suci Tumpek Landep pada Sabtu (18/4).(BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Jelang rahina Tumpek Landep, Museum Bali menggelar upacara penyucian sejumlah keris sakral, Jumat (17/4). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian piodalan yang akan berlangsung pada Sabtu (18/4).

Kepala UPTD Museum Bali, Ida Ayu Made Sutariani mengatakan, penyucian keris dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap benda pusaka yang memiliki nilai magis dan historis. “Hari ini hanya penyucian keris, besok dilanjutkan dengan piodalan,” ujarnya.

Dijelaskan, sebanyak tiga keris disucikan dalam prosesi tersebut. Keris-keris ini merupakan bagian dari koleksi sakral museum yang secara rutin disucikan setiap enam bulan sekali, bertepatan dengan Tumpek Landep. Sementara itu, koleksi keris lainnya yang berjumlah lebih dari seratus bilah tetap dirawat melalui konservasi berkala.

Baca juga:  Puluhan Negara Ikuti Piala Dunia Panjat Tebing di Bali

Terkait asal-usul keris, pihak museum mengakui belum memiliki data pasti. Berdasarkan catatan, sebagian besar koleksi keris di Museum Bali merupakan hibah dari rumah lelang Belanda pada sekitar tahun 1930-an, saat awal pendirian museum oleh pemerintah kolonial.

“Data tertulis yang kami miliki hanya mencatat bahwa keris masuk dari rumah lelang Belanda, sehingga tidak diketahui secara pasti berasal dari puri mana atau milik siapa,” jelasnya.

Baca juga:  Kembangkan Sektor Pertanian, Petani Diberi Kemudahan Akses Perbankan

Meski demikian, di masyarakat berkembang keyakinan bahwa beberapa keris tersebut memiliki keterkaitan dengan peristiwa Puputan Badung. Namun, hal itu belum dapat dibuktikan secara akademis.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, menegaskan pentingnya pelestarian benda pusaka sebagai bagian dari warisan budaya. Menurutnya, penyucian keris tidak hanya bermakna secara spiritual, tetapi juga sebagai upaya menjaga nilai sejarah dan identitas budaya Bali.

Baca juga:  UPTD Museum Bali Gelar Aktualisasi Karya Seni Le Mayeur Lewat Pergelaran Seni Virtual

Piodalan di Museum Bali akan dilaksanakan secara sederhana seperti tahun-tahun sebelumnya. Dalam prosesi tersebut, tidak seluruh koleksi keris dikeluarkan, mengingat sebagian besar telah melalui proses konservasi untuk menjaga kondisi tetap baik. (Widiastuti/balipost)

 

BAGIKAN