
DENPASAR, BALIPOST.com – Rahina Tumpek Landep yang jatuh pada Sabtu Kliwon wuku Landep, dirayakan umat Hindu di Bali dengan bersembahyang sebagai bentuk rasa syukur serta mempertajam pikirin. Biasanya umat Hindu menggelar upacara pada benda-benda atau senjata hasil karya manusia serta yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari, mulai dari pisau dapur hingga kendaraan.
Salah satunya upacara Tumpek Landep yang berlangsung di Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Penyelamatan Kota Denpasar, Sabtu (18/4).
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Denpasar, I Made Tirana mengatakan, ada 16 unit armada damkar yang diupacarai kali ini. “Semua pos merapat ke pos induk untuk diupacarai. Ada 16 unit mobil,” kata Tirana.
Pihaknya memaparkan, kegiatan ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus terima kasih atas kelancaran pelayanan, khususnya dalam menangani laporan kebakaran dan penyelamatan masyarakat. Selain itu, upacara ini juga menjadi momentum untuk memohon keselamatan dan kesehatan bagi seluruh personel yang bertugas.
Menurut Tirana, jajaran Damkar Denpasar tidak hanya bertugas menangani api, tetapi juga wajib turun langsung membantu masyarakat dalam situasi darurat seperti halnya banjir yang melanda Denpasar. “Prinsip kami adalah penyelamatan nyawa, barang, dan tempat tinggal masyarakat. Maka setiap bencana yang terjadi, kami pastikan personel hadir di lapangan,” tegasnya.
Demikian terkait bencana yang ditangani, sejak Januari hingga April 2026, tercatat terjadi 92 kejadian kebakaran. Kebakaran ini menimpa rumah warga, tempat usaha, hingga pelinggih dengan berbagai penyebab. Kerugian atas kejadian tersebut mencapai Rp 4,2 miliar. “Penyebabnya ada yang diakibatkan korsleting listrik, ada juga kebocoran gas,” paparnya.
Adapun rincian kejadian kebakaran ini yakni bulan Januari terjadi 26 kejadian, Februari 19 kejadian, Maret 21 kejadian, dan April 26 kejadian. Sementara objek yang terbakar meliputi rumah tinggal, dapur, bengkel, ruko, gudang, bengkel, hingga kebakaran kendaraan bermotor.
Faktor yang terkait masalah kelistrikan baik korsleting kabel, gardu, dan panel listrik menjadi penyebab yang paling sering terjadi dengan total 20 kasus. Faktor tertinggi kedua adalah masalah terkait dapur dan gas seperti kebocoran tabung gas, kompor, dan aktivitas di dapur dengan total 15 kasus. Terkait kejadian ini, Tirana mengimbau masyarakat untuk selalu mematikan kompor setelah tidak digunakan serta memeriksa stop kontak kelustrikan secara rutin. (Widiastuti/balipost)










