Seorang warga di Denpasar menangani sampah organik yang kini wajib dikelola mandiri. (BP/wid)

DENPASAR, BALIPOST.com – Masyarakat Denpasar diwajibkan untuk menangani sampahnya secara mandiri, terutama untuk organik. Beberapa diantaranya memutuskan membawa sampah organiknya pulang kampung, khususnya untuk organik kering. Salah satu alasannya mengingat komposter bag yang digunakan menampung sampah organik diprediksi cepat penuh.

Salah satunya dilakukan warga Desa Ubung Kaja, Denpasar Utara, Apgandhi. Pada Rabu (15/4), ia mengatakan hanya sampah organik basah atau sisa dapur yang diletakkan di komposter bag. Untuk organik kering seperti daun, bekas canang dan sebagainya, Gandhi panggilan akrabnya, mengaku membawa sampah tersebut pulang ke kampung setiap minggunya.

Baca juga:  Dewan Hakim Porprov Bali XVI Sebut THB PBSI Bali Sah Secara Prosedural

Sebelum dibawa pulang ke kampung halaman yang terletak di Petang, Badung, dia mengeringkan terlebih dulu sampahnya dengan cara dijemur, sehingga tidak menimbulkan bau. “Daripada bingung, bakar nggak boleh, kalau ditaruh di komposter bag, sebulan dua bulan saja akan penuh. Jadi bawa pulang kampung, di sana ada teba (kebun belakang) luas untuk menampung,” katanya.

Ia mengakui sampah-sampah masih bisa dikeringkan untuk meminimalisir bau sehingga bisa ditumpuk sebelum dibawa pulang kampung saat musim kemarau. Namun saat musim hujan nanti, menurutnya, cara ini tidak akan efektif lagi, mengingat sampah dalam kondisi basah akan sulit untuk didiamkan dalam kurun waktu lama. Untuk itu, ia berharap nantinya ada penanganan baru untuk sampah organik dari pemerintah.

Baca juga:  Sidang Lanjutan Aktivis di PN Denpasar Digelar Selasa

Hal senada juga disampaikan Ida Ayu Made Candra Kartika warga yang tinggal di Kelurahan Padangsambian, Denpasar. Ia mengaku, halaman rumahnya sempit, dan meskipun menggunakan komposter bag, kadang menimbulkan bau khususnya untuk sampah dapur.

Oleh karenanya, setelah 1 April, ia dan suaminya memutuskan membawa sampah organiknya ke kampung di Bakas, Klungkung. “Setiap minggu suami saya pulang bawa sampah. Biasanya satu bag plastik besar, dan tiga kantong kresek merah dibawa dengan mobil,” paparnya.

Baca juga:  Di Jembrana, 335 Pengungsi Mandiri dari Zona Rawan

Ia mengaku, sampah yang dihasilkan di rumahnya lebih banyak organik daripada anorganik. “Ada sampah dapur, canang, itu yang lebih banyak. Kalau anorganik sangat sedikit. Jadi biar tidak numpuk, dan halaman rumah juga sempit, kebetulan punya tegalan di kampung, saya bawa pulang saja,” paparnya.

Ini bukan kali pertama ia membawa sampahnya ke kampung. Beberapa waktu lalu saat tak ada pengangkutan sampai sebulan, ia juga membawa sampahnya pulang kampung. “Syukur saya punya kampung. Kalau misalnya cuma punya rumah di Denpasar saja, pasti pusing mikirin sampah,” imbuhnya. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN