
NEGARA, BALIPOST.com – Perayaan Idulfitri atau Lebaran di Kelurahan Loloan Timur, Kecamatan Jembrana, tak sekadar diisi dengan Salat Id. Ada rangkaian tradisi yang terus hidup dan dijaga turun-temurun oleh masyarakat setempat, mulai dari nyekar hingga silaturahmi ke rumah keluarga dan tetangga.
Seusai melaksanakan Salat Idul Fitri pada Sabtu (21/3) pagi, warga berbondong-bondong menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Loloan Timur. Sejak pagi, kawasan pemakaman yang sudah ada sejak sebelum kemerdekaan itu sudah dipadati peziarah yang datang bersama keluarga. Mereka membawa bunga, air doa, hingga wewangian untuk ditaburkan di pusara, dilanjutkan dengan doa bagi keluarga yang telah berpulang.
Bagi masyarakat Loloan Timur, tradisi nyekar bukan sekadar rutinitas tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi wujud penghormatan sekaligus cara menjaga ikatan batin dengan para leluhur. Tradisi ini telah diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Muslim setempat.
Di tengah suasana khidmat, momen nyekar juga menjadi ajang pertemuan. Warga yang jarang bertemu, termasuk mereka yang merantau dan pulang kampung, saling menyapa di area pemakaman. Suasana hangat dan penuh kebersamaan pun terasa kental. “Setiap Lebaran pasti ke sini. Selain mendoakan keluarga, juga bisa bertemu saudara dan tetangga,” ujar Nur Hariri (56), warga setempat.
Kehangatan Lebaran di Loloan Timur tak berhenti di hari pertama. Memasuki hari kedua Idulfitri, tradisi berlanjut dengan silaturahmi dari rumah ke rumah. Warga biasanya mengunjungi kerabat yang lebih tua, tokoh masyarakat, hingga tetangga sekitar untuk saling bermaafan.
Dalam tradisi ini, generasi muda mendatangi orang-orang yang dituakan sebagai bentuk penghormatan. Sementara itu, tuan rumah dengan terbuka menyambut tamu yang datang, lengkap dengan hidangan khas Lebaran yang menambah suasana akrab.
“Selain di sekitar Loloan Timur dan Loloan Barat, banyak kerabat yang juga dari desa sekitar, seperti Air Kuning, Cupel, Pengambengan hingga di Yeh Sumbul dan Melaya. Kita saling silaturahmi, terutama ke rumah kerabat yang lebih tua,” tambah Iwan (42), warga lainnya.
Silaturahmi ini menjadi pelengkap dari rangkaian perayaan Idulfitri di Loloan Timur. Tidak hanya mempererat hubungan kekeluargaan, tetapi juga menjaga nilai kebersamaan yang telah lama mengakar di tengah masyarakat. Tradisi nyekar dan silaturahmi tersebut menurutnya menjadi cerminan kuatnya nilai spiritual dan kekeluargaan warga Loloan Timur dalam memaknai Idulfitri. (Surya Dharma/balipost)










