
DENPASAR, BALIPOST.com – Momentum Hari Raya Nyepi dan Idulfitri yang tahun ini jatuh dalam waktu berdekatan diperkirakan akan meningkatkan aktivitas ekonomi sekaligus memberi tekanan terhadap stabilitas harga di Bali. Karena itu, sinergi seluruh pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Warmadewa (FEB Unwar), Dr. Ni Luh Putu Indiani, SE.,MM., mengatakan, lonjakan konsumsi masyarakat menjelang dua hari raya besar tersebut merupakan fenomena yang wajar. Namun jika tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan dan distribusi yang lancar, kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga sejumlah komoditas.
Menurutnya, Bali memiliki karakteristik ekonomi yang cukup khas karena sangat dipengaruhi sektor pariwisata, konsumsi rumah tangga, serta aktivitas ekonomi berbasis budaya. Saat hari raya berlangsung bersamaan, permintaan terhadap berbagai komoditas strategis seperti beras, daging ayam, telur, cabai, bawang merah, minyak goreng, hingga kebutuhan upacara keagamaan seperti bunga, janur, dan buah-buahan biasanya meningkat signifikan.
Data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga di Bali mulai meningkat bahkan sebelum periode hari raya. Pada Februari 2026, inflasi tahunan Provinsi Bali tercatat sebesar 3,89 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Denpasar sebesar 4,33 persen, sementara terendah di Kabupaten Badung sebesar 3,06 persen.
“Kenaikan harga ini menunjukkan dinamika inflasi di Bali cukup dipengaruhi aktivitas ekonomi perkotaan yang memiliki tingkat konsumsi lebih tinggi,” ujarnya saat diwawancara, Senin (9/3).
Beberapa komoditas yang memberi kontribusi terhadap inflasi antara lain tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, beras, serta bawang merah. Dari sisi pangan, komoditas seperti daging ayam, beras, dan bawang merah menjadi perhatian karena merupakan kebutuhan pokok yang permintaannya meningkat menjelang hari raya.
Ia menjelaskan, terdapat beberapa faktor utama yang biasanya memicu tekanan inflasi pada periode tersebut. Pertama, lonjakan permintaan konsumsi masyarakat. Umat Hindu di Bali membutuhkan berbagai sarana upacara menjelang rangkaian Nyepi seperti Melasti dan Tawur Kesanga, sementara umat Muslim juga meningkatkan konsumsi pangan untuk persiapan Idul Fitri.
Faktor kedua adalah potensi gangguan distribusi logistik. Menjelang Nyepi, aktivitas transportasi dan distribusi barang akan mengalami pembatasan, terutama saat Hari Raya Nyepi di mana seluruh aktivitas dihentikan selama 24 jam. Jika distribusi tidak diatur dengan baik sebelumnya, pasokan barang di pasar dapat terganggu.
Selain itu, perilaku panic buying juga dapat mempercepat kenaikan harga ketika masyarakat khawatir terjadi kelangkaan barang.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, pengendalian inflasi perlu dilakukan secara terkoordinasi. Pemerintah daerah, misalnya, dapat memastikan ketersediaan pasokan pangan dengan memetakan kebutuhan komoditas strategis serta memperkuat koordinasi dengan daerah pemasok seperti Jawa dan NTB.
Selain itu, pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah dinilai efektif untuk menahan kenaikan harga karena menambah pasokan langsung ke masyarakat dengan harga lebih terjangkau.
Koordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) juga perlu diperkuat untuk memantau perkembangan harga harian serta merumuskan langkah intervensi jika terjadi lonjakan harga pada komoditas tertentu.
Indiani menambahkan, stabilitas harga tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Pelaku usaha, distributor, petani, perbankan, media, hingga masyarakat sebagai konsumen juga memiliki peran penting.
Pelaku usaha diharapkan menambah stok barang serta menghindari praktik penimbunan, sementara petani dapat memperkuat produksi komoditas hortikultura lokal seperti cabai, bawang, dan sayuran.
“Media juga memiliki peran penting dalam memberikan informasi yang akurat agar tidak terjadi kepanikan di masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, masyarakat diimbau berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan dan menghindari pembelian berlebihan. Dukungan terhadap produk lokal juga dinilai dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Dengan koordinasi yang baik antara pemerintah, pelaku usaha, produsen, dan masyarakat, stabilitas harga di Bali diharapkan tetap terjaga menjelang dua hari raya besar tersebut sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi daerah dalam jangka panjang. (Ketut Winata/balipost)










