
DENPASAR, BALIPOST.com – Dalam Kasanga Festival (Kasanga Fest) 2026, turut dimeriahkan pula oleh lomba ogoh-ogoh mini, sketsa ogoh-ogoh hingga tapel ogoh-ogoh. Dalam lomba ini tim penilai melakukan penilaian, Sabtu (7/3). Beragam karya para pemuda Denpasar pun menarik perhatian juri yang disebutkan kreativitas mereka kian meningkat.
Ketua Tim Juri Lomba Tapel Ogoh-ogoh, I Made Gede Kariyasa saat ditemui di sela-sela kegiatan mengaku bangga dengan karya seka teruna di Kota Denpasar yang sudah bisa menghasilkan karya maksimal, meski di tengah keterbatasan yang ada. “Karya-karya di sini sudah menunjukan kreativitas yang luar biasa,” katanya.
Ada 3 aspek dinilai dari karya ogoh-ogoh yang terpajang di area Lapangan Puputan Badung ini. Pertama konsep, kedua dari sisi bagaimana proses pembuatannya dan ketiga adalah kreativitasnya. Untuk tapel ogoh-ogoh sendiri, menurutnya, penilaian secara umum merujuk ke kepala ogoh-ogoh yang bersifat tiga dimensi. Bukan hanya tapel yang bersifat dua dimensi.
Person in Charge (PIC) Lomba Ogoh-ogoh Mini, Sketsa dan Tapel Ogoh-ogoh, Ketut Swastika mengatakan, jumlah peserta dalam kegiatan ini 89. Terdiri dari 13 karya ogoh-ogoh mini mesin, 25 karya ogoh-ogoh mini non mesin, sketsa ogoh-ogoh 23 karya dan tapel ogoh-ogoh sebanyak 28 karya.
Kretiria karya yang dilombakan, kata Swastika, yakni pertama setiap karya yang masuk nominasi harus mengikuti ketentuan yang disepakati panitia Kasanga Fest 2026. Dimana karya yang masuk nominasi adalah karya seka teruna bukan untuk perseorangan. Kedua karya yang dilombakan merupakan terbaru yang belum pernah dilombakan sebelumnya.
Untuk juri didatangkan dari berbagai bidang. Mulai dari praktisi atau juri di bidang seni rupa, bidang sastra maupun bidang sketsa yang paham terhadap garis dan arsiran.
Salah Serorang peserta dari ST Werdhi Yowana, Banjar Tampak Gangsul Ida Bagus Putra Widiantara mengatakan, karya ogoh-ogoh mini garapannya memgambil tema “Leak” (Linggih Antuk Aksara) yang diangkat dari lampahan sulinggih asal Sanur yakni Ida Pedanda Made Sidemen yang berjudul ‘Sanghyang Sangsara”. Tema tersebut diambil menggambarkan bagaimana keadaan di bumi atau alam yang saat ini mencerminkan gemuruh dan angin yang terjadi belakangan ini.
“Visual yang kami ambil sesuai penokohan. Dalam aturan lomba diperbolehkan seorang tokoh di Denpasar. Ini kisah nyata, beliau (Ida Pedanda Made Sidemen) meninggal 1984,” ungkapnya.
Dia mengaku dalam pembuatan ogoh-ogoh mini ini lebih sulit daripada ogoh-ogoh besar. Terutama pada detail pengerjaan mimik wajah, anatomi tubuh dan bagaimana mempakemkan hiasan tokoh yang diangkat. “Yang kecil ini lebih detail pengeliatannya lebih tajam,” katanya.
Waktu pengerjaan ogoh-ogoh mini ini juga diakuinya cukup panjang sekitar 3 sampai 4 bulan. (Widiastuti/balipost)










