Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng, Gede Gunawan Adnyana Putra, menunjukan papan nama jalan yang berbahan limbah plastik daur ulang. (BP/istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Penataan kawasan Titik Nol Kota Singaraja terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Buleleng dengan konsep ramah lingkungan. Salah satu inovasi yang segera diwujudkan adalah penggunaan papan nama jalan berbahan limbah plastik daur ulang hasil kolaborasi Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Buleleng bersama Rumah Plastik Mandiri Buleleng.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng, Gede Gunawan Adnyana Putra, menjelaskan gagasan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Bupati dan Wakil Bupati Buleleng dalam merancang gerakan baru penataan kota, khususnya di kawasan strategis Titik Nol.

Menurutnya, ide tersebut kemudian dikembangkan melalui diskusi internal dan kerja sama dengan Rumah Plastik Mandiri Buleleng. Proses perancangan memerlukan waktu cukup panjang karena harus menyesuaikan dengan ketentuan Kementerian Perhubungan terkait fasilitas jalan, sekaligus menghadirkan desain yang original dan memiliki identitas khas Buleleng.

Baca juga:  5 Rekomendasi Vihara di Bali untuk Rayakan Waisak Tahun Ini

“Penataan kawasan tidak hanya harus aman dan tertib, tetapi juga ramah lingkungan. Lampu penerangan jalan dirancang menggunakan PJUTS, kabel ditanam di bawah tanah, dan untuk papan nama jalan kami berpikir kenapa tidak memanfaatkan sampah plastik,” ujarnya, Rabu (11/2).

Pemilik Rumah Plastik Mandiri Buleleng, Eka Darmawan, menyampaikan apresiasinya atas kepercayaan yang diberikan Dishub Buleleng dalam mengeksekusi program tersebut. Ia menyebut proyek ini menjadi kebanggaan tersendiri karena hasilnya akan dinikmati masyarakat luas di ruang publik.

Baca juga:  Ribuan Personel Gabungan Bersihkan Pesisir Pantai Utara Bali

“Juknis dari Dinas Perhubungan tetap kami gunakan 100 persen. Namun kami menambahkan ciri khas, mulai dari penggunaan material plastik jenis HDPE yang aman dan tahan cuaca, sentuhan seni Bali, hingga rencana penambahan ukiran dengan gaya Bali,” jelasnya.

Selain memiliki desain khas, papan nama jalan ini juga dirancang dinamis. Beberapa bagian dapat dimodifikasi sesuai momentum tertentu, seperti peringatan HUT Kota Singaraja maupun Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dari sisi produksi, untuk membuat 10 papan nama jalan lengkap dengan tiangnya dibutuhkan sekitar 880 kilogram plastik dalam kondisi sudah tercacah. Jika dihitung dari bahan mentah yang belum dicacah, jumlahnya mencapai lebih dari satu ton sampah plastik.

Baca juga:  Penanaman Pohon Tandur Taru Urip Dimulai dari Desa Pinggan

Seluruh bahan baku tersebut dikumpulkan dari jaringan binaan Rumah Plastik Mandiri berupa bank sampah dan TPST yang tersebar di Kabupaten Buleleng.

Eka menambahkan, tantangan terbesar justru berada pada proses pengumpulan bahan baku. Setelah material tersedia, proses produksi relatif cepat. Untuk satu papan nama jalan, pengerjaan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari. “Secara keseluruhan, mulai dari pengumpulan hingga pemasangan, 10 papan nama dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih satu bulan,” imbuhnya. (Nyoman Yudha/balipost)

BAGIKAN