
SINGARAJA, BALIPOST.com – Dewan Pendidikan Kabupaten Buleleng menyoroti serius krisis tenaga pendidik yang kian mengkhawatirkan di daerah tersebut. Saat ini, Buleleng tercatat kekurangan lebih dari seribu guru akibat tingginya angka pensiun setiap tahun serta kebijakan penguncian Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang tidak lagi membuka ruang perekrutan tenaga honorer.
Ketua Dewan Pendidikan Buleleng, I Made Sedana, Rabu (11/2) mengatakan, persoalan kekurangan guru sejatinya tidak hanya terjadi di Buleleng, melainkan hampir merata di seluruh Indonesia. Namun demikian, kondisi ini tetap membutuhkan penanganan cepat agar tidak berdampak pada layanan dan kualitas pendidikan di daerah.
“Yang pertama karena Dapodik dikunci, tidak bisa lagi menerima guru honorer. Kemudian jumlah guru yang pensiun itu cukup banyak setiap tahunnya,” ujar Sedana yang juga dosen Institut Mpu Kuturan Singaraja.
Berdasarkan perkiraan terakhir, kekurangan guru di Kabupaten Buleleng mencapai sekitar 1.056 orang dan berpotensi terus bertambah. Pasalnya, setiap bulan selalu ada guru yang memasuki masa pensiun.
“Kekurangan ini bisa terus bertambah. Setiap bulan pasti ada yang pensiun. Ini yang harus dipikirkan bagaimana guru pengganti bisa segera ada, supaya anak-anak tetap terlayani,” tegasnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng telah mengambil langkah awal dengan melibatkan peran komite sekolah dan Dewan Pendidikan. Salah satu upaya yang didorong adalah partisipasi dalam penyediaan sumber daya manusia berupa asisten guru atau asisten mengajar guna membantu proses pembelajaran di sekolah.
“Dengan adanya asisten guru, setidaknya bisa membantu persoalan kekurangan guru di Kabupaten Buleleng,” kata Sedana.
Meski demikian, Dewan Pendidikan berharap langkah tersebut tidak bersifat sementara dan tidak berlarut-larut. Pemerintah daerah didorong segera mengambil langkah strategis, termasuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat agar persoalan kekurangan guru dapat ditangani secara menyeluruh.
Sedana menegaskan, guru merupakan pilar utama dalam sistem pendidikan. Kekurangan tenaga pendidik berpotensi berdampak langsung pada kualitas pembelajaran di sekolah.
“Kalau pilarnya rapuh, tentu kualitas pendidikan akan berpengaruh. Jangan sampai kualitas pendidikan kita menurun hanya karena faktor kekurangan guru,” paparnya. (Yudha/balipost)










