Proses panen di salah satu lahan pertanian di Kabupaten Tabanan. (BP/dok)

SINGASANA, BALIPOST.com – Sebagai daerah lumbung pangan Bali, Kabupaten Tabanan selama ini masih bergantung pada tenaga pemanen padi dari luar Bali, terutama dari Jawa dan Nusa Tenggara Barat. Ketergantungan tersebut kerap menimbulkan persoalan saat tenaga panen sulit diperoleh, khususnya di hari besar keagamaan. Kondisi itu mendorong Pemerintah Kabupaten Tabanan berupaya menghidupkan kembali sekaa manyi di setiap subak.

Plt. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, I Made Subagia, mengatakan keberadaan sekaa manyi sebagai kelembagaan pemanen tradisional di Tabanan dalam beberapa tahun terakhir tidak berjalan optimal. Padahal, sekaa manyi memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran panen di tingkat subak.

Baca juga:  Dilimpahkan Tahap II, Tersangka Arisan Online Ditahan

“Untuk tahap awal, dua subak ditetapkan sebagai pilot project, yakni Subak Aseman IV di Kecamatan Selemadeg Timur dan Subak Bebali di Kecamatan Selemadeg,” ujarnya, Jumat (30/1).

Menurut Subagia, anggota subak akan diberdayakan sebagai tenaga pemanen dan difasilitasi dengan mesin perontok padi atau power thresher. Ke depan, setiap subak akan didorong memiliki sekaa manyi resmi guna memenuhi kebutuhan panen internal.

Ia menambahkan, selama ini sekaa manyi masih ada namun bersifat parsial dan belum terlembaga dengan baik. Melalui penguatan kelembagaan tersebut, Pemkab Tabanan berharap dapat mengurangi ketergantungan terhadap tenaga panen dari luar daerah.

Baca juga:  Minimalisir Kebocoran Pajak, Pemkab Bangun Empat Portal Pelapis Galian C

Sementara itu, sekaa manyi yang masih bertahan salah satunya terdapat di Subak Lanyah Bajera III, Kecamatan Selemadeg. Ketua Gapoktan Subak Lanyah Bajera III, I Ketut Sunada, mengatakan sebagian besar anggota sekaa manyi saat ini berusia di atas 40 tahun dan belum memiliki regenerasi.

Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya produktivitas tenaga panen. Selain itu, petani berharap bantuan power thresher yang diberikan menyesuaikan kondisi lahan pertanian di Tabanan yang didominasi terasering.

Baca juga:  Dukung Upaya Pelestarian Penyu, Bupati Kembang Apresiasi Program TJSL PT PLN Persero

“Mesin berukuran kecil lebih sesuai karena mudah dioperasikan, terutama oleh tenaga perempuan,” katanya.

Selain alat panen, perbaikan jalan subak juga dinilai penting untuk mendukung mobilisasi mesin perontok padi dan pengangkutan hasil panen. (Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN