Ketua PHDI Bali, I Nyoman Kenak. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali secara resmi menerbitkan Surat Edaran tentang Pedoman Pelaksanaan Rangkaian Rahina Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 atau Tahun 2026 Masehi. Puncak perayaan Hari Raya Nyepi ditetapkan jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026 tepatnya sehari setelah Tilem Kasanga.

Surat edaran bernomor 13/Um.PHDI Bali/I/2026 tertanggal 19 Januari 2026 tersebut ditandatangani oleh Ketua PHDI Provinsi Bali, I Nyoman Kenak, SH., bersama Sekretaris Ir. Putu Wirata Dwikora, SH.,MH. Edaran ini menjadi pedoman resmi pelaksanaan seluruh rangkaian Nyepi bagi umat Hindu di Bali.

Selain surat edaran, PHDI Bali juga menetapkan Pedoman Pelaksanaan Rangkaian Rahina Suci Nyepi yang tertuang dalam Lampiran Surat Keputusan Nomor 26/SK/PHDI BALI/I/2026. Pedoman ini disusun agar seluruh rangkaian upacara Nyepi dapat berjalan sesuai dengan tattwa, susila, dan upacara agama Hindu, sekaligus menyesuaikan dengan dresta setempat.

Baca juga:  Bulan Purnama Siddhi, Ini Himbauan PHDI Bali

Ketua PHDI Bali, I Nyoman Kenak, menjelaskan bahwa rangkaian Nyepi diawali dengan Melis/Melasti/Mekiyis/ Mekekobok yang dapat dilaksanakan hingga Rabu, 18 Maret 2026. Pada hari yang sama juga dilaksanakan Tawur Agung Kesanga bertepatan dengan Tilem Kasanga, yang dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat provinsi hingga rumah tangga.

“Untuk tingkat provinsi, perwakilan kabupaten/kota hadir di Pura Agung Besakih pada pukul 09.00 Wita untuk nunas Tirtha Tawur dan Nasi Tawur. Selanjutnya tirta tersebut dipercikkan di wilayah masing-masing sesuai tradisi desa adat,” ujar Nyoman Kenak saat dikonfirmasi, Sabtu (24/1).

Ia merinci, pelaksanaan Tawur Kesanga di tingkat kabupaten/kota dimulai pukul 12.00 WITA, dilanjutkan tingkat kecamatan pukul 13.00 WITA di Catus Pata menggunakan Caru Panca Sata. Untuk tingkat desa adat dilaksanakan pukul 16.00 WITA, tingkat banjar saat sandikala, dan tingkat rumah tangga dilaksanakan di merajan, natah, serta lebuh pada saat sandikala.

Baca juga:  Lokasabha VIII PHDI Bali, Umat Hindu Diajak Bersatu

Terkait pelaksanaan Ngerupuk atau Mabuu-buu yang menjadi penutup Tawur Kesanga, PHDI Bali mengimbau agar prosesi dilakukan dengan penuh sraddha bhakti dan menjaga nilai kesucian. Sarana pokok yang digunakan antara lain gni prakpak (obor), bunyi-bunyian seperti kulkul bambu, serta triketuka berupa bawang putih, mesui, dan jangu sebagai simbol nyomya Bhuta Kala.

Selanjutnya, Nyepi atau Sipeng dilaksanakan selama 24 jam penuh, mulai Kamis, 19 Maret 2026 pukul 06.00 WITA hingga Jumat, 20 Maret 2026 pukul 06.00 WITA, dengan menjalankan Catur Brata Penyepian, yaitu Amati Gni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan. Rangkaian Nyepi ditutup dengan Ngembak Geni pada 20 Maret 2026.

PHDI Bali juga memberikan perhatian khusus bagi umat Hindu atau pura yang melaksanakan Piodalan/Pujawali bertepatan dengan Hari Raya Nyepi. Upacara tetap dapat dilaksanakan dengan penyesuaian, dipimpin oleh pemangku atau prajuru, meminimalkan penggunaan api atau dupa, serta tanpa tetabuhan gong dan dharmagita. Umat lainnya diimbau untuk ngayat atau sembahyang dari rumah masing-masing.

Baca juga:  Cuaca Ekstrem, Polda Siagakan Pasukan

Selain itu, PHDI Bali menegaskan bahwa pelayanan kemanusiaan dan kegawatdaruratan tetap diperbolehkan selama Nyepi dengan pengawasan ketat aparat terkait. Wisatawan dan tamu yang berada di Bali juga diimbau untuk turut menghormati dan menjaga kesucian Hari Raya Nyepi.

“Wisatawan dan tamiu kami harapkan ikut menjaga kesucian, kedamaian, dan keharmonisan selama Nyepi demi kerukunan antar dan intern umat beragama,” pungkas Nyoman Kenak.

Melalui pedoman ini, PHDI Bali mengajak seluruh umat Hindu dan masyarakat Bali menjadikan Nyepi sebagai momentum introspeksi diri, pengendalian diri, serta penguatan nilai-nilai spiritual dan keharmonisan kehidupan. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN