Ilustrasi. (BP/Dokumen)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ketergantungan Provinsi Bali pada sektor pariwisata dinilai membuat kondisi ketenagakerjaan daerah sangat rentan terhadap krisis. Dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berpotensi muncul apabila Bali tetap bergantung pada satu sektor, khususnya pariwisata, tanpa mengembangkan sektor alternatif.

Diversifikasi sumber ekonomi dinilai menjadi kunci untuk menciptakan stabilitas dan kepastian kerja bagi masyarakat.

Pemerhati ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mahasaraswati Denpasar, Dr. Made Santana Putra Adiyadnya, M.Si., mengatakan, mayoritas tenaga kerja Bali bekerja di sektor pariwisata yang bersifat fluktuatif, siklikal, dan musiman. Ketika terjadi gangguan pada sektor ini, dampaknya langsung terasa pada tenaga kerja.

Baca juga:  Layanan Kargo di Bandara Ngurah Rai Naik 9,5 Persen, Ini Tujuan yang Mendominasi

“Pada masa pandemi Covid-19, terjadi penurunan jam kerja hingga pemutusan hubungan kerja yang berdampak pada penurunan pendapatan rumah tangga dan meningkatnya pengangguran terbuka,” ujarnya Selasa (13/1).

Menurut Sentana, lemahnya resiliensi tenaga kerja Bali saat krisis menunjukkan perlunya perubahan struktur ekonomi yang lebih berimbang dan berkelanjutan.

“Pariwisata adalah sektor yang sangat sensitif. Tanpa diversifikasi, Bali akan terus berada dalam siklus kerentanan yang sama setiap kali terjadi krisis,” jelasnya.

Apakah ketergantungan penuh pada pariwisata berisiko memperlebar ketimpangan pendapatan dan melemahkan kualitas sumber daya manusia Bali dalam jangka panjang?.

Ia menekankan bahwa pengalaman pandemi seharusnya menjadi pelajaran penting bagi Bali untuk memperkuat sektor-sektor nonpariwisata sebagai penopang ekonomi daerah. “Tujuan akhirnya adalah menciptakan perekonomian yang stabil, berkelanjutan, dan memberikan kepastian bagi tenaga kerja Bali,” terangnya.

Baca juga:  Jual Sabu, Dituntut 7 Tahun Penjara

Sebelumnya Dosen Program Studi Magister Ilmu Ekonomi FEB Universitas Udayana, Dr. I Wayan Sukadana menilai Bali memiliki potensi besar untuk keluar dari ketergantungan pariwisata melalui pengembangan sektor-sektor baru yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Setidaknya ada tiga sektor strategis yang dapat menjadi penopang baru penciptaan lapangan kerja sekaligus melahirkan entrepreneur lokal.

Pertama, industri kesehatan, termasuk gizi dan pangan sehat. Dengan basis pendidikan kesehatan yang cukup kuat serta ketersediaan tenaga medis, Bali dinilai berpeluang mengembangkan layanan kesehatan berkualitas dan medical tourism, menjadikan Bali bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga pusat layanan kesehatan regional.

Baca juga:  Pebisnis Kelahiran Madrid Diadili Kasus Kokain

Kedua, industri seni dan kreatif. Seni disebut sebagai DNA Bali yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Talenta lokal di bidang seni rupa, tari, musik, desain, hingga konten digital berpotensi menembus pasar global dengan dukungan teknologi, film, animasi, dan platform digital.

Ketiga, industri teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Kehadiran komunitas digital nomads, ekosistem startup, dan co-working space menjadi modal besar. “Dengan kebijakan yang tepat, Bali berpeluang berkembang menjadi pusat inovasi dan ekonomi digital yang menyerap tenaga kerja muda terdidik,” jelasnya. (Suardika/bisnisbali)

BAGIKAN