
DENPASAR, BALIPOST.com – Pemprov Bali akan melakukan penataan terhadap Online Travel Agent (OTA) dan Airbnb. Hal ini disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster, Minggu (4/1).
Ia meminta OTA dan Airbnb agar mengikuti regulasi dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian daerah. “OTA dan Airbnb akan kita tata. Kita ingin sama-sama mendapatkan manfaat. Sekarang mereka yang banyak dapat untung, daerah belum optimal,” ujarnya.
Penataan tersebut akan dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan gejolak, dengan membangun koridor regulasi yang adil dan berkelanjutan.
Berdasarkan data, kinerja pariwisata Bali sepanjang 2025 menunjukkan tren sangat positif, bahkan mencatatkan capaian tertinggi sepanjang sejarah.
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali pada tahun 2025 mencapai lebih dari 7,05 juta orang, meningkat sekitar 750 ribu wisatawan dibandingkan capaian tertinggi sebelum pandemi Covid-19 pada tahun 2019 yang sebesar 6,27 juta kunjungan.
Sebelum tahun 2019, angka kunjungan wisman ke Bali tercatat lebih rendah. “Ini adalah pencapaian tertinggi sepanjang sejarah pariwisata Bali,” ujar Koster.
Selain lonjakan kunjungan wisman, Gubernur Koster juga menegaskan bahwa tingkat hunian hotel (occupancy rate) di Bali berada pada kisaran 70 hingga 85 persen, bahkan di beberapa kawasan wisata utama mencapai di atas 90 persen. “Saya cek langsung, tingkat hunian hotel di Bali sangat baik. Ada kawasan tertentu yang okupansinya sudah di atas 90 persen,” jelasnya.
Peningkatan kunjungan wisatawan tersebut berbanding lurus dengan kenaikan Pendapatan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) di seluruh kabupaten/kota se-Bali. Seluruh daerah mengalami pertumbuhan pendapatan PHR, dengan peningkatan tertinggi tercatat di Kabupaten Badung, Kota Denpasar, Gianyar, dan Tabanan.
“Ini penting, karena menunjukkan wisatawan yang datang menginap di hotel-hotel resmi yang taat pajak. Kalau wisatawan meningkat tapi PHR tidak naik, berarti menginap di akomodasi ilegal. Faktanya, PHR meningkat signifikan,” tegasnya.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa meskipun dihadapkan pada berbagai isu, seperti kemacetan, sampah, keterbatasan air bersih, hingga perilaku wisatawan yang tidak tertib, Bali tetap menjadi destinasi utama pilihan wisatawan dunia. “Banyak isu negatif yang muncul, Bali dibilang sepi dan sebagainya. Faktanya, Bali tetap penuh. Wisatawan mancanegara tetap memilih Bali,” ujarnya. (Ketut Winata/balipost)










