Wisatawan mancanegara (wisman) mencari akomodasi pariwisata di Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjok Oka Artha Ardana Sukawati atau yang akrab disapa Cok Ace membeberkan laporan terkini dari berbagai asosiasi perhotelan di Bali terkait kondisi pariwisata pada masa high season libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.

Cok Ace menjelaskan, berdasarkan laporan Bali Hotel Association (BHA), tingkat kunjungan wisatawan pada minggu pertama hingga minggu kedua Desember 2025 belum menunjukkan lonjakan signifikan. Hal ini berbeda dengan pola tahunan yang umumnya mengalami peningkatan pada minggu ketiga hingga minggu keempat Desember.

“Kondisi sekarang, kalau kami dapat informasi dari anggota kami di Bali Hotel Association, pada minggu pertama dan kedua tingkat hunian berada di kisaran 60–70 persen. Sementara non-change atau kamar yang tidak terjual masih cukup tinggi, berkisar antara 20–50 persen,” ujar Cok Ace, Jumat (2/1).

Memasuki minggu ketiga Desember, okupansi hotel di Bali mulai menunjukkan tren positif. Cok Ace menyebut tingkat hunian meningkat hingga 85 persen, dengan angka non-change yang biasanya berada di bawah 10–20 persen.

“Kalau sekarang posisi okupansi kami ada di 85 persen. Namun, nanti pada minggu pertama Januari, khususnya setelah tanggal 4 Januari saat musim liburan berakhir, okupansi kembali turun menjadi sekitar 50–60 persen,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Cok Ace menyoroti sejumlah isu yang belakangan kerap diframing di media sosial, seperti kondisi jalanan yang terlihat sepi, persoalan banjir, serta masalah sampah, yang dinilai turut memengaruhi minat kunjungan wisatawan domestik ke Bali.

Baca juga:  Tahun Depan, PPDB Denpasar Diminta Tak Lagi Akomodir Zona Bina Lingkungan

Berdasarkan data pergerakan wisatawan tahun 2025, jumlah wisatawan domestik mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pada bulan Desember 2025, wisatawan domestik tercatat menurun hingga 42 persen.

Sementara itu, wisatawan yang masuk melalui bandara hanya mengalami penurunan sekitar 8,3 persen. “Yang paling signifikan adalah hilangnya kunjungan wisatawan domestik yang datang melalui jalur darat. Biasanya mereka datang menggunakan kendaraan pribadi dan berkontribusi besar terhadap kepadatan lalu lintas,” jelasnya.

Cok Ace mencontohkan, pada tahun sebelumnya Bali dikunjungi sekitar 6,3 juta wisatawan domestik, sementara wisatawan mancanegara mencapai angka yang sama. Kondisi tersebut menyebabkan kemacetan panjang di sejumlah ruas jalan. Namun pada tahun 2025, meskipun jumlah wisatawan mancanegara meningkat menjadi lebih dari 7 juta orang, kontribusi wisatawan domestik justru menurun.

“Artinya, kontribusi wisatawan lokal pada waktu itu sangat tinggi. Ini menjadi gambaran yang membuat kami cukup khawatir, meskipun kami tetap berjuang menjaga pariwisata Bali,” terangnya.

Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa tahun 2026 akan menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penurunan jumlah wisatawan nusantara (wisnus) yang berkunjung ke Bali.

Evaluasi ini dinilai penting guna memastikan keberlanjutan pariwisata Bali secara berimbang dan berkualitas.

“Tahun 2026 perlu dilakukan evaluasi terkait penurunan wisnus, apakah ada kaitannya dengan berkurangnya jumlah penerbangan ke Bali, mahalnya harga tiket, isu banjir, atau perubahan pola perjalanan wisatawan dari jalur udara ke jalur darat,” tegas Koster.

Baca juga:  Kasus Pabrik Narkoba di Tibubeneng, Bareskrim Polri Amankan Bukti Belasan Miliar Rupiah

Menurut Koster, ke depan Pemerintah Provinsi Bali akan semakin menekankan arah pembangunan pariwisata berkualitas. Pariwisata tidak lagi semata-mata diukur dari kuantitas kunjungan, melainkan dari kualitas wisatawan yang datang serta dampak positifnya bagi masyarakat dan lingkungan Bali.

“Kegiatan pariwisata tidak hanya bergantung pada jumlah turis, tetapi juga kualitasnya. Salah satu aspek yang diperhatikan adalah pariwisata yang berkualitas, misalnya berapa lama wisatawan tinggal di Bali, di mana menginap, bersama siapa, apa aktivitasnya, bahkan kesiapan finansialnya. Supaya semuanya terkontrol, seperti saat kita berwisata ke negara lain,” jelasnya.

Koster mengungkapkan, kebijakan tersebut merupakan hasil pembelajaran dari berbagai negara yang telah lebih dulu menerapkan sistem seleksi dan pengendalian wisatawan. Ia juga menegaskan tidak ingin tergesa-gesa menghakimi kondisi pariwisata Bali saat ini, termasuk persoalan kemacetan, sampah, dan banjir.

“Kita perlu melihat persoalan ini secara utuh. Bali pernah berada di titik sangat sulit saat pandemi Covid-19. Tahun 2021 tercatat hanya 51 orang yang datang ke Bali. Awal 2022 pun jumlahnya masih sangat rendah, Januari sekitar 1.500 orang dan Februari sekitar 1.000 orang,” ungkap Koster.

Pasca-Covid-19, lanjutnya, pemerintah bersama berbagai pihak melakukan berbagai relaksasi kebijakan dan skema pemulihan, termasuk mendorong program Work From Bali.

Beragam upaya tersebut berhasil menggerakkan kembali sektor pariwisata, meskipun di sisi lain memunculkan berbagai polemik yang hingga kini masih perlu ditata dan disempurnakan.

Baca juga:  Ekonomi Tumbuh Tertinggi se-Indonesia, Badung Masih Kantongi 17.010 Orang Miskin

“Kondisi pariwisata ini tidak bisa dibenahi dalam satu atau dua hari. Perlu kesabaran dan konsistensi. Namun data sudah menjawab, meskipun muncul berbagai isu, jumlah wisatawan ke Bali justru meningkat,” katanya.

Berdasarkan data tahun 2025, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 7,05 juta orang. Angka ini meningkat sekitar 750 ribu orang dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebanyak 6,3 juta orang, sekaligus menjadi pencapaian tertinggi dalam 10 tahun terakhir, bahkan melampaui masa sebelum pandemi Covid-19. “Pariwisata Bali sudah pulih dan bangkit melampaui pencapaian sebelum Covid-19,” ujar Koster.

Sementara itu, jumlah wisatawan nusantara tahun 2025 tercatat mencapai 9,28 juta orang, lebih rendah sekitar 730 ribu orang dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 10,12 juta orang. Secara total, gabungan wisman dan wisnus tahun 2025 mencapai sekitar 16,3 juta orang, sedikit menurun sekitar 100 ribu orang dibandingkan tahun 2024.

Meski demikian, Koster menegaskan Bali tetap menjadi destinasi wisata dunia yang sangat diminati. Data juga menunjukkan peningkatan signifikan kunjungan wisatawan melalui jalur kapal pesiar. Pada tahun 2025, jumlah wisman yang masuk melalui cruise di Pelabuhan Benoa mencapai lebih dari 71 ribu orang, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah sekitar 53 ribu orang.

“Data ini sekaligus menjawab bahwa tidak benar Bali sepi. Justru jumlah wisatawan meningkat dan Bali tetap menarik bagi masyarakat dunia,” tegasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN