Warga keturunan Tionghoa-Bali melaksanakan tradisi kirab Barongsai-Liong dalam merayakan Imlek di Kuta, Badung, Senin (16/2) sore. Tradisi berkeliling yang berpusat pada Vihara Dharmayana Kuta ini diyakini sebagai upaya untuk tolak bala. (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Kirab budaya yang melibatkan ratusan warga memeriahkan perayaan Tahun Baru Imlek 2577 di kawasan. Upacara tolak bala yang digelar di Vihara Dharmayana Kuta, Senin (16/2) sore ini menjadi momentum kebersamaan sekaligus simbol harmonisasi budaya Tionghoa dan Bali yang telah terjalin lama.

Kehadiran berbagai elemen budaya dalam satu prosesi menunjukkan kuatnya toleransi dan kebersamaan masyarakat lintas tradisi di Bali

Prosesi diawali dengan ritual persembahan khas tradisi Tionghoa, mulai dari kertas sembahyang, kertas emas, hingga aneka kue dan sajian yang dipersembahkan kepada leluhur. Setelah itu, kirab Barongsai dan Liong bergerak mengelilingi kawasan Kuta, diiringi ratusan krama dari Banjar Dharma Semadi Kuta.

Baca juga:  WWF ke-10, Petani Bali Pamerkan Produk Kesehatan “Boreh” dan Arak Rempah

Penanggung jawab vihara, Adi Dharmaja Kusuma, menegaskan makna spiritual kehadiran Barongsai dan Liong dalam tradisi tersebut.

“kehadiran Liong dan Barongsai pada prosesi ini diyakini mampu menetralisir energi-energi negatif, sehingga masyarakat dapat memasuki tahun baru dengan perasaan sukacita dan penuh harapan,” ungkap Adi Dharmaja saat ditemui usai prosesi.

Kirab Barongsai Pusaka Tantra diikuti sekitar 70 personel inti. Keterlibatan ibu-ibu PKK mencapai sekitar 125 orang, ditambah partisipasi keluarga besar banjar yang jumlahnya ratusan orang. Umat dari lingkungan sekitar juga turut meramaikan prosesi.

“Secara keseluruhan, jumlah peserta yang mengikuti acara pada sore hari itu diperkirakan mencapai 300 hingga 400 orang,” ucapnya.

Selain ritual utama, kirab menampilkan nuansa akulturasi budaya yang kental. Ibu-ibu PKK hadir mengenakan kamen dan kebaya, sementara peserta membawa lontek lengkap dengan tirta dan jempana sebagai simbol kesucian. Tedung yang biasanya digunakan dalam upacara adat Bali juga turut dibawa, mempertegas perpaduan dua tradisi.

Baca juga:  5 Berita Terpopuler: Dari Penghentian Suplai Air di Gianyar hingga Jepang Diguncang Gempa 7,5 Magnitudo

Akulturasi budaya antara etnis Tionghoa dan Bali sendiri diyakini sudah berlangsung ribuan tahun lamanya, mulai dari hadirnya Vihara Dharmayana Kuta tahun 1700.

Adapun yang dipuja utama di wihara tersebut adalah Yang Mulia Toa Kongco Tan Hu Cin Jin yang didampingi oleh dua mahapatih Hindu yaitu Ida Bagus Tiying Kayu dan I Gusti Ngurah Tubu.

“Jadinya akulturasi ini sudah sangat lama karena kita menghormati yang namanya mahapatih bhagawanta dari Bali,” ucapnya.

Baca juga:  Laporkan Kasus Baru 3 Digit, 3 Zona Merah Ini Juga Tambahkan Kesembuhan Terbanyak

Prosesi tolak bala sendiri berlangsung pada waktu sore sehari jelang Tahun Baru Imlek 2577 dan tahun ini merupakan kali ke-18 ritual rutin dilakukan.

Para peserta parade berjalan dari Vihara Dharmayana Kuta menuju selatan ke persimpangan Jalan Blambangan-Kalianget.

Rombongan selanjutnya berbelok ke barat dan berhenti sejenak untuk menampilkan atraksi barongsai dan liong.

Canang sari, dupa, dan pengasapan turut melengkapi prosesi, menjadi lambang harmonisasi budaya yang berjalan berdampingan.

Ratusan peserta kemudian melanjutkan parade ke pertigaan Jalan Raya Kuta di depan Pura Desa Adat Kuta, kemudian prosesi diakhiri dengan rombongan kembali bergerak menuju Vihara Dharmayana Kuta. (Parwata/balipost)

BAGIKAN