Sosialisasi Nangun Sat Kerthi Loka Bali di Bali TV, Senin (11/5). (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Cagar budaya telah identik dengan Desa Adat Bedulu, sebuah desa kuno dan unik di Kabupaten Gianyar. Sebut saja Pura Samuan Tiga, yang dikenal sebagai tempat lahirnya desa adat dan kahyangan tiga.

Kemudian ada objek wisata Goa Gajah yang sudah terkenal hingga mancanegara. Tak hanya itu, desa adat yang memiliki 863 KK ini juga memiliki potensi alam berupa kelebutan (mata air) yang airnya bisa langsung diminum oleh masyarakat dan pernah dikaji Universitas Udayana.

Serta tak ketinggalan potensi tradisi dan seni budaya. Salah satu tradisi yang masih kental di Bedulu, yang harus tetap kita lestarikan yaitu tradisi di Pura Samuan Tiga, terkenal dengan nampyong,” ujar Bendesa Adat Bedulu, Gusti Ngurah Made Serana dalam acara dialog “Sosialisasi Nangun Sat Kerthi Loka Bali di Kabupaten Gianyar”, langsung dari Studio Bali TV, Senin (11/5).

Selain itu, lanjut Serana, ada pula tradisi ngambeng yakni mengumpulkan bahan-bahan untuk keperluan persiapan upacara piodalan/wali di Pura Samuan Tiga dari masyarakat yang dilakukan oleh anak-anak. Untuk seni, Serana menyebut saat ini pihaknya sedang melakukan upaya regenerasi tari kecak khas Bedulu menggunakan bantuan dana desa adat dari pemerintah provinsi Bali.

Dikatakan bila masyarakat setempat sangat antusias mendukung program-program dalam visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Seperti sekarang, sedang dibangun sekaa-sekaa seni, mulai dari seni tari, sekaa angklung, sekaa gong, seni lukis hingga seni pahat. Salah satunya adalah sekaa seni tari kupu-kupu tarum untuk menggali kembali yang pernah hilang.

Sekarang dengan adanya pandemi COVID-19, kegiatan adat dan budaya diakui sangat terganggu. “Prajuru inti segera melakukan sangkep untuk membuat perarem yang bersifat sementara,” imbuhnya.

Serana menegaskan, pihaknya selama ini disiplin melaksanakan semua keputusan pemerintah, serta PHDI dan MDA. Hal tersebut dilakukan demi kepentingan dan kesehatan bersama. Satgas Gotong Royong juga sudah dibentuk dan menyalurkan 863 paket sembako kepada masyarakat.

Untuk mencegah penyebaran COVID-19, jam operasional toko modern dan pasar tradisional dibatasi, mengontrol agar tidak ada keramaian, serta mengedukasi masyarakat terkait protokol kesehatan dan memakai masker. Sejauh ini, kendala yang dihadapi adalah mendeteksi penduduk pendatang.

Apalagi, banyak krama desa adat yang memiliki kos-kosan. “Kita sudah buat ketegasan supaya krama yang memiliki kos-kosan harus mengawasi betul penduduk yang tinggal disana. Ini bukan diskriminatif. Tapi untuk kepentingan bersama demi kesehatan kita,” tegasnya.

Baca juga:  Gubernur Dukung Sosialisasi "Nangun Sat  Kerthi Loka Bali"

Serana menambahkan, tak sedikit pula masyarakat Bedulu yang bekerja di sektor pariwisata kini mengalami PHK. Mereka inilah yang utamanya disasar bantuan sembako.

Lantaran sudah jenuh di rumah, pihaknya membuat program pembersihan lingkungan secara gotong royong. Kemudian, memanfaatkan lahan-lahan yang ada untuk ditanami sayur-sayuran dan kacang-kacangan.

Hasilnya nanti dibagi bersama dan kegiatan penanaman dilakukan dengan menerapkan social distancing.

Terkait upaya untuk memelihara dan melestarikan berbagai potensi di Desa Adat Bedulu ini, Sekretaris Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali Dewa Ardana menyebut telah sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru. Konsep ini menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, dan untuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang sejahtera dan bahagia sekala niskala menuju kehidupan krama dan gumi Bali sesuai dengan prinsip Tri Sakti Bung Karno.

“Salah satu yang diwujudkan oleh krama Desa Bedulu, kita mewujudkan berkepribadian dalam kebudayaan,” katanya.

Menurut Ardana, kelestarian budaya menjadi konsep utama menjaga ajeg Bali. Inilah yang diharapkan dalam penguatan desa adat dengan diterbitkannya Perda No.4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali dan peraturan turunannya berupa Pergub. Di sisi lain, pihaknya mengaku bangga melihat tradisi di Desa Adat Bedulu yang masih begitu kuat bahkan hingga anak-anak pun turut mempertahankannya.

Mengingat di jaman sekarang, generasi muda khususnya anak-anak sangat lekat dengan gadget. “Inilah yang memang harus kita pertahankan dan kita lestarikan terus sehingga virus ini mengembang kepada seluruh desa adat yang ada di Bali. Ini merupakan kunci dasar hakiki dari orang Bali yaitu sifat kegotongroyongan,” jelasnya.

Ardana menambahkan, Pemprov Bali sudah mengucurkan anggaran Rp 300 juta bagi setiap desa adat untuk membangun kekuatan desa adat. Di sana ada program parahyangan, pawongan dan pelemahan.

Termasuk didalamnya membangun SDM Bali agar kuat lewat kegiatan pembinaan yowana. Tak sedikit pula program Pemprov Bali dititipkan di desa adat, seperti pengelolaan timbulan sampah plastik.

Mengenai penanganan COVID-19, Satgas Gotong Royong bersinergi pula dengan Relawan Desa Lawan COVID-19. “Kami sangat salut dengan Satgas Gotong Royong, awal mereka bekerja itu memang tanpa mengenal lelah dan betul-betul berdasarkan hati nurani dan yadnya,” terangnya. (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.