Suasana kunjungan anggota DPRD Bali. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – COVID-19 saat ini menjadi momok yang menakutkan ditengah-tengah masyarakat. Kendati, Pemprov Bali lewat Gugus Tugas terus membangun kepercayaan bahwa pasien positif COVID-19 bisa sembuh.

Terbukti, tingkat kesembuhan pasien positif COVID-19 di Bali saat ini sudah mencapai 60 persen. Data terbaru hingga Kamis (7/5), akumulatif pasien sembuh berjumlah 183 orang dari total 287 kasus positif.

Hal inipun turut disampaikan DPRD Bali saat melakukan kunjungan ke Banjar Serokadan, Desa Abuan, Bangli dan Desa Bondalem, Buleleng. “Di samping memberikan bantuan sembako, kami berikan juga edukasi bahwa keberhasilan penyembuhan bagi warga yang telah ditetapkan positif corona di Bali mencapai 60 persen,” ujar Wakil Ketua DPRD Bali, I Nyoman Sugawa Korry.

Pria yang juga Ketua DPD Golkar Bali ini menambahkan, capaian kesembuhan tersebut sudah tentu akan lebih baik kedepannya. “Warga yang dinyatakan positif tidak perlu merasa pesimis,” katanya.

Menurut Sugawa Korry, hal yang perlu dijadikan pelajaran bersama justru pola karantina mandiri para pekerja migran di desa. Pola ini perlu dievaluasi lagi karena pekerja migran masih akan datang lagi dari luar negeri.

Baca juga:  Satgas Gotong Royong Desa Adat Penatih Puri Bagikan Masker dan Sembako

Pada intinya, disiplin harus dikondisikan dan diciptakan. Jangan diserahkan begitu saja kepada masyarakat untuk berdisiplin. “Kalaupun konsekuensinya harus dikeluarkan anggaran, pemerintah harus berani wujudkan itu,” jelasnya.

Hal lain yang perlu ditangani dan diantisipasi, lanjut Sugawa Korry, menyangkut adanya penolakan terhadap warga Bangli di daerah lain. Secepatnya harus ada upaya edukasi dan dicegah.

Jika penolakan misalnya dialami warga Bangli yang berprofesi sebagai pedagang, hendaknya dibantu uji swab dari pemerintah. Bila hasilnya negatif, mereka dapat diberikan surat keterangan sehat atau tidak terinfeksi COVID-19. Jadi, siapapun tidak bisa menolak mereka.

“Saya berharap para tokoh masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan karena masalah-masalah yang dihadapi di kedua desa tersebut cukup berat,” tandasnya. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.