Suasana di Pantai Batu Bolong saat wabah COVID-19 melanda. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pariwisata Bali diprediksi tidak cepat bisa kembali pulih sekalipun pandemi COVID-19 berakhir tahun ini. Bahkan dalam waktu dua tahun sekalipun, pariwisata Bali belum akan 100 persen normal.

Kunjungan wisatawan mancanegara masih akan sulit menembus angka 6 juta seperti saat sebelum ada COVID-19. “Menurut saya dan teman-teman saat berdiskusi, setelah dua tahun itu kunjungan wisatawan tidak akan lebih dari 60 persen,” ujar Anggota Komisi II DPRD Bali, A.A. Ngurah Adhi Ardhana dikonfirmasi, Rabu (6/5).

Dengan kata lain, lanjut Adhi Ardhana, kunjungan wisatawan di tahun 2022 diprediksi maksimal hanya 60 persen dari angka 6,3 juta yang berhasil dicapai 2019 lalu. Sedangkan tahun depan, bisa jadi hanya tercapai sekitar 40 persennya saja. Hal tersebut tidak lepas dari kebijakan social dan physical distancing selama pandemi COVID-19. Kondisi ini sontak memunculkan kekhawatiran akan kolapsnya sejumlah pengusaha pariwisata di Bali, terutama pengusaha lokal.

“Kalau vaksin sudah ditemukan, mungkin akan kembali terjadi kekroditan (orang bepergian/berwisata, red). Tapi feeling psikologis pasti tetap menjaga jarak,” kata Politisi PDIP asal Puri Gerenceng, Denpasar ini.

Baca juga:  Mental Warga Bali Makin "Blengih"

Adhi Ardhana yang juga Ketua Pansus Ranperda Standar dan Penyelenggaraan Kepariwisataan Budaya Bali ini berharap pemerintah daerah membuat perlindungan kepada pengusaha-pengusaha Bali secara lebih berkeadilan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Putu Astawa mengatakan, kapan pandemi COVID-19 akan berakhir masih belum dapat dipastikan. Kalaupun belum bisa menggaet wisatawan mancanegara, masih ada potensi wisatawan domestik dan lokal untuk menggeliatkan pariwisata Bali setelah pandemi berakhir.

“Kalau masyarakat luar kelihatannya masih percaya dengan Bali,” katanya.

Terlebih sekarang, lanjut Astawa, Bali sudah mendapatkan apresiasi lantaran tingkat kesembuhan pasien positif COVID-19 cukup tinggi, mencapai hampir 60 persen. Kemudian, jumlah kematian akibat COVID-19 juga terhitung rendah.

Bahkan disebut yang terendah di Indonesia. Pun dengan jumlah kesembuhan yang dikatakan tertinggi di tanah air.

“Kita ini yang penting untuk mempertahankan kepercayaan itu. Jangan sampai nanti ada kejadian yang melunturkan kepercayaan,” imbuhnya.

Astawa menambahkan, SOP yang baik terutama menyangkut protokol kesehatan harus disiapkan. Bali juga tidak terburu-buru mendatangkan wisatawan sebelum kondisi benar-benar aman untuk mencegah kembali terjadi outbreak. (Rindra Devita/balipost)

1 KOMENTAR

  1. Hati hati dengan kemungkinan terjadinya ‘dark-competition’ dengan Daerah Tujuan Wisata lain di regional Asia Tenggara. DTW dan negara2 lain di regional Asia Tenggara juga sudah bersiap siap menggaet wisman. Jangan sampai ada ‘kiriman’ bule sakit ke Bali (New Terorism). Sebelum Bali dibuka kembali, pastikan sudah tersedia fasilitas test PCR Covid19 (bukan rapid test aja) langsung dilakukan di bandara Ngurah Rai di unit instalasi/ruangan khusus dan hasilnya harus bisa instan..bukan menunggu 3 hari atau lebih spt yg terjadi sekarang. Bila sudah lolos uji PCR baru boleh keluar gate arrival, kalau tidak lolos, langsung bawa ke rumah sakit. Kalau Bali lalai mengenai hal ini, mungkin jangan lagi berharap pariwisata Bali akan kembali normal hingga waktu yg lebih lama dari 2022.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.