pengungsi
Bupati Mas Sumatri. (BP/dok)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Kasus penolakan pasien anak demam tinggi yang merapat ke Pelabuhan Padangbai, Jumat (17/4) malam membuat Bupati Karangasem, IGA Mas Sumatri minta maaf. Dalam rilis resminya, Sabtu (18/4), ia pun mengharapkan ini merupakan kasus terakhir yang terjadi.

“Kepada bupati Klungkung dan rakyat Klungkung, terkhusus keluarga pasien, saya atas nama Pemkab Karangasem dan rakyat Karangasem mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian Padangbai,” katanya.

Ia pun mengaku masih ingat bagaimana sikap tulus dan total rakyat Klungkung membantu warga Karangasem saat erupsi Gunung Agung. “Karena itu tidak seharusnya kejadian Padangbai terjadi. Sekali lagi kami mohon maaf dan persaudaraan rakyat Karangasem dan Klungkung hendaknya tetap terbangun baik,” sebutnya.

Dikatakannya, wabah COVID-19 adalah wabah global. Bukan hanya dialami rakyat Karangasem, oleh karena itu kebersamaan, dan solidaritas sosial atas dasar empati kemanusiaan harus menjadi dasar perlawanan untuk mencegah COVID-19. “Segenap Ssatgas Covid Desa agar melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat bagaimanan seharusnya sikap kita dalam mencegah Covid 19, dan bagaimana memperlakukan mereka saudara kita yang diduga potensial sebagai pasien COVID-19,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan agar kasus Padangbai menjadi kasus terakhir. “Jika masih terjadi penolakan serupa, saya mendorong aparat keamanan untuk mengambil tindakan tegas sesuai UU No 6 Tahun 2018 di mana pihak-pihak yang menghalangi upaya-upaya pencegahan dan karantina kesehatan diancam pidana penjara dan denda,” tegas Mas Sumatri.

Baca juga:  Di Karangasem, Segini Jumlah Naker Migran Berstatus ODP

Sebelumnya, Wakil Bupati Karangasem, Artha Dipa juga angkat bicara soal kasus ini. Ia meminta agar Bendesa Adat dan Satgas Covid Gotong Royong Padangbai melakukan pelurusan persoalan sehingga tidak menjadi preseden buruk bagi Karangasem.

Dari informasi dihimpun, kronologisnya pada Jumat (17/4) malam, pasien anak berumur 5 tahun dirujuk dari RS Pratama Gema Santi Nusa Penida dengan kondisi demam tinggi. Perjalanan pasien anak ini cukup panjang saat melakukan penyeberangan.

Ia sempat ditolak saat fastboat hendak sandar di Pelabuhan Padangbai. Peristiwa ini langsung viral di media sosial, setelah paman dari pasien ini Wayan Yadnya, berkisah tentang pilunya perjalanan keponakannya agar sampai di RSUD Klungkung.

Akun media sosialnya langsung “banjir” ungkapan iba dari netizen. Keponakannya harus bertaruh nyawa di tengah kondisi badan panas tinggi dan sudah sesak napas karena berhadapan dengan situasi ini.

Ia mengungkapkan, dari hasil test lab, keponakannya tidak mengalami gejala DBD. Hasil rapid test juga negatif. Jadi, sudah tidak ada kaitan dengan COVID-19. (Eka Parananda/balipost)

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.