Gubernur Bali Wayan Koster meresmikan pengiriman logistik lewat Pelabuhan Benoa menggunakan Kapal Meratus. (BP/may)

DENPASAR, BALIPOST.com – Mengalihkan pengangkutan barang dan logistik lewat laut diyakini dapat mengurangi lalu lintas truk melalui jalur darat. Dengan demikian, kecelakaan yang kerap terjadi, kemacetan dan kerusakan infrastruktur jalan dapat dihindari.

Kepala Dinas Perhubungan Bali I Gede Wayan Samsi Gunarta mengatakan, saat ini pengiriman logistik lewat jalur laut baru ada 6 call yang masing–masing muatannya 52 TEUs. Seharusnya kapasitas kapal 70 TEUs, sehingga 6 call dengan muatan 52 TEUs baru mencapai 350 TEUs.

“Kalau dua kali seminggu, setiap tiga hari sekali harusnya bisa 8 call. Jadi, secara normal dengan kapasitas kapal yang sekarang, harusnya bisa 400–500 TEUs per bulan. Kami akan dorong ini sampai ekonomisnya menjadi 1.000 TEUs. Ini kami dorong terus bersama–sama produksinya,” jelasnya saat penandatanganan MoU tentang ekspor dari Bali untuk peningkatan aktivitas dan efisiensi logistik angkatan laut, di Pelabuhan Benoa, Jumat (28/2).

Baca juga:  Sembako Mulai Langka di Nusa Penida, Lancar di Lembongan

Menggunakan pengiriman lewat laut dinilai akan mengurangi jumlah truk yang melewati jalur darat sebanyak 150 truk per minggu atau sekitar 20 truk per hari, mengingat satu TEUs dikonversikan sama dengan satu truk. Sebab, 30 persen dari seluruh lalu lintas darat adalah truk. Persentase ini sekitar 15 kali lipat dari jumlah kendaraan yang lalu lalang.

Besarnya lalu lintas truk pengangkut logistik menggunakan jalur darat mempengaruhi kepadatan jalan, karena kendaraannya besar yaitu 1,3 kali dari kendaraan biasa. Sementara dari sisi waktu, menggunakan jalur darat atau laut hampir sama. Hanya, kondisi darat tidak menentu karena bisa terjadi kemacetan, sedangkan jalur laut bisa dihitung kepastian waktu sampainya.

“Tapi yang utama dengan adanya peningkatan jalur laut ini, devisa ekspornya bisa menjadi milik Bali,” tandas Gunarta.(Citta Maya/balipost)