Warga Desa Adat Batuaji membuat banten. (BP/Istimewa)

TABANAN, BALIPOST.com – Seakan tidak mau ketinggalan dengan desa lainnya, Desa Adat Batuaji, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan juga memiliki keinginan untuk mewujudkan cita-cita menjadi desa wisata. Di tengah keterbatasan potensi yang dimiliki, Desa Adat Batuaji akan bersinergi dengan desa dinas untuk mewujudkan hal tersebut. Hal itu sejalan dengan program Pemprov Bali melalui visi ‘’Nangun Sat Kerti Loka Bali’’ yakni penguatan desa adat untuk menyejahterakan krama desa.

Bendesa Adat Batuaji Gusti Nyoman Madia mengatakan, Desa Adat Batuaji terdiri atas empat banjar adat yakni Banjar Batuaji Kelod, Batuaji Kaja, Penulisan dan Jangkahan, dengan jumlah krama adat sebanyak 397 KK. Krama setempat saat ini dominan bekerja di bidang pertukangan.

Sedangkan pada era tahun 80-an, mayoritas krama saat itu bergerak di sektor pertanian. “Dulu 70 persen hampir warga kami bergerak di sektor pertanian, namun seiring perkembangan global dan mulai kecilnya debit air irigasi, banyak yang beralih ke sektor lain,” terangnya.

Meski diakui saat ini potensi pertanian lahan basah memang masih ada tepatnya di Banjar Penulisan, Jangkahan dan Batuaji Kaja, ditopang sektor perkebunan. Dengan potensi alam yang masih bisa dipertahankan inilah, kuat keinginan untuk menjadikan desa ini sebagai desa wisata.

Yakni menjual potensi alam pertanian yang rencananya akan dipadukan dengan seni dan budaya, serta kehidupan krama setempat khususnya usaha rumah tangga seperti membuat banten upakara, jajan Bali maupun jajan basah. “Banyak warga yang menekuni UMKM usaha kecil rumah tangga seperti membuat jajan upakara, jajan Bali, kerajinan inka dan jejahitan upakara,” katanya.

Baca juga:  "Nangun Sat Kerthi Loka Bali" Roh PKB XLI

Karena yang “dijual” adalah keindahan alam, maka konsepnya adalah dengan penyediaan jalur trekking. Dalam konteks itu sudah dibangun jalan setapak di pinggir sawah. “Mungkin saja wisatawan diajak ke rumah krama melihat proses pembuatan sarana upakara dan jajan Bali. Bagaimana nantinya menggabungkan alam dan budaya ini sebagai konsep desa wisata,” pungkasnya.

Namun keinginan menjadikan desa wisata ini diakuinya baru sebatas pembahasan, dan sedang dirancang. “Artinya Batuaji dengan potensi yang dimiliki saat ini tidak mau kalah dengan desa lain yang sudah mengantongi SK wisata. Yang diharapkan ke depan bisa menunjang keberadaan BUPDA, namun yang jelas prosesnya harus bertahap,” pungkasnya.

Di tengah keinginan menjaga potensi alam untuk bisa menjadi objek desa wisata, Desa Adat Batuaji tentunya juga memikirkan cara agar bisa menjawab tantangan menjamurnya kawasan permukiman. Salah satunya diikat dengan aturan adat, khususnya di kawasan yang harus dijaga.

Sementara potensi seni dan budaya yang dimiliki meliputi tari wali Rejang Renteng dan Rejang Dewa. Sedangkan tari bali-balihan seperti Arja masih proses pembinaan. Tahun 2020 ini paling tidak sudah harus jalan, karena akan dipentaskan saat pujawali.

Disinggung kesiapan Desa Adat Batuaji merealisasikan program Gubernur Bali “Nangun Sat Kerti Loka Bali” khususnya soal palemahan, dikatakan, sedang dirancang program layanan untuk pengangkutan sampah.

Sementara itu, program PAUD/TK bernuansa Hindu masih akan dirancang, karena harus berkoordinasi dengan dinas dan perbekel. Sementara sekaa santi, sekaa sebunan, sastra Bali sudah terus ada pembinaan termasuk untuk yowana. (Puspawati/balipost)