Prosesi Ngandusin. (BP/Karya Gabriella Okki Alfian)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bali dengan keragaman seni, adat dan budayanya yang khas, unik dan eksotis, ibarat samudra mahaluas bagi seorang fotografer yang tak pernah tuntas untuk diarungi. Sepanjang tahun, selalu saja ada event atau festival budaya menarik yang sangat menantang untuk diabadikan.

Salah satu event menarik yang senantiasa dinanti-nanti fotografer adalah pementasan Sanghyang Dedari di Desa Adat Geriana Kauh, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem. Tarian sakral yang dipentaskan setahun sekali atau bertepatan dengan Purnama Kedasa ini sudah mendapatkan pengakuan dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan budaya dunia yang hampir punah.

Jika Anda tertarik mengabadikan Sanghyang Dedari ini, berikut tips praktis dari Gabriella Okki Alfian yang bisa dijadikan panduan.

Trance. (BP/Karya Gabriella Okki Alfian)

Patuhi Aturan

Menurut  fotografer yang sudah meraih berbagai prestasi membanggakan di kompetisi fotografi ini, memotret event budaya apalagi yang bersifat sakral seperti Sanghyang Dedari, seorang fotografer tidak hanya dituntut memiliki kemampuan fisik yang prima semata. Namun, ada semacam “rambu-rambu” yang wajib ditaati oleh para fotografer untuk mengabadikan momen tersebut.

Mulai dari masalah etika, perizinan, adat budaya setempat, situasi lingkungan memotret, cuaca dan peraturan panitia. Agar bisa memotret acara seperti festival dengan baik, ada baiknya membekali diri dengan pengetahuan budaya yang berhubungan dengan event tersebut.

Misalnya, apakah makna dan tujuan dari pementasan Sanghyang Dedari tersebut, peralatan apa yang digunakannya dan siapa saja yang terlibat didalamnya. Tak kalah pentingnya adalah mengetahui rangkaian acaranya karena dari situ kita bisa mengatur posisi pemotretan, apa yang perlu dipotret, dan sebagainya.

Sanghyang Dedari Masolah. (BP/Karya Gabriella Okki Alfian)

Pastikan datang lebih awal dan siap dengan peralatan fotografi yang paling tepat untuk mengeksekusi momen tersebut. “Dalam sebuah event budaya, pihak panitia biasanya menerapkan beberapa peraturan. Misalnya, izin akses masuk ke tempat acara, batas pemotretan dan sebagainya. Pahami dan patuhi aturan yang dibuat panitia karena hal ini nantinya berhubungan dengan perlengkapan fotografi yang harus dibawa,” ujarnya.

Tak kalah pentingnya, kata Gabriella, hormati adat-istiadat masyarakat setempat. Mengingat event itu digelar di lingkungan pura, maka gunakanlah pakaian adat sehingga akses menuju lokasi acara tidak terhambat hanya lantaran masalah pakaian. Jika ada ketentuan larangan memotret dengan menggunakan flash atau posisi memotret tidak boleh berdiri, maka patuhilah aturan tersebut.

Baca juga:  Cara Mencegah Bau Mulut

Memahami dan menghormati adat istiadat di mana kita akan memotret bersifat mutlak sehingga kita tidak mendapat masalah yang nantinya membuat kesempatan kita untuk mengabadikan event itu terbuang sia-sia. “Ingat selalu menjaga jarak dengan pelaku festival sehingga mereka dapat beraktivitas dengan nyaman tanpa merasa terganggu. Mengingat objek yang kita potret bersifat religius atau sakral, maka pastikan kehadiran kita di sana tidak mengganggu prosesi atau ritual tersebut,” katanya mengingatkan.

Sanghyang Dedari Masolah. (BP/Karya Gabriella Okki Alfian)

Kondisi “lowlight”

Lantas, peralatan fotografi apa saja yang harus dibawa? Menurut Gabriella, lensa dengan focal lenght 24-70 mm dan 70-200 mm sudah mencukupi. Atau jika mau lebih aman lagi dan tidak mau dibebani dengan peralatan fotografi yang berat, sangat disarankan membawa lensa sapu jagat atau lensa dengan focal lenght 18-300 mm atau 18-200 mm.

Lensa ini memungkinkan kita mengabadikan objek dari jarak dekat maupun dari jarak yang agak jauh. “Saat memotret Sanghyang Dedari, kita akan dihadapkan dengan kondisi pencahayaan yang sangat minim atau lowlight yang memaksakan kita menggunakan ISO tinggi. Jadi, pastikan kamera kita memang andal digunakan untuk kondisi seperti itu. Terkait pengaturan speed, diafragma, ISO, white balance, komposisi dan sebagainya, itu sangat tergantung dengan kondisi di lapangan,” tegasnya.

Gabriella menuturkan, pementasan Sanghyang Dedari diyakini sebagai media penolak bala dan kesuburan dalam proses bercocok tanam. Tarian ini diawali dengan prosesi ngandusin atau pengasapan yang merupakan sebuah prosesi penting, yakni penghadiran yang gaib melalui asap atau pasepan.

Menari di Bawah Hujan. (BP/Karya Gabriella Okki Alfian)

Asap dan bau-bau an tertentu akan cepat mengantarkan kekuatan tersebut masuk ke dalam wadahnya, yakni penari perempuan yang belum akil balig. Asap juga media yang paling cepat mengantar kesadaran penari dalam wilayah trance. Prosesi ini dilakukan di dalam pura dan dipimpin oleh seorang pemangku.

Saat prosesi ini berlangsung hanya kaum perempuan yang diperbolehkan masuk ke dalam area pura tersebut. Setelah penari-penari memasuki kondisi trance, mereka akan dibopong oleh ibu-ibu warga setempat untuk keluar dari pura menuju pelataran desa yang telah disiapkan untuk menari. “Selama pemotretan, ingat selalu mematuhi segala peraturan yang telah ditetapkan oleh panitia. Jangan sampai keberadaan kita di sana justru menganggu kekhusyukan krama desa adat dalam mengikuti ritual tersebut,” katanya mengingatkan. (Wayan Sumatika/balipost)