Menristek sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro saat meninjau perangkat Buoy Generasi 4, Rabu (11/12) di pelabuhan Benoa. (BP/edi)

DENPASAR, BALIPOST.com – Indonesia yang terletak di kawasan cincin api (ring of fire), harus siap menghadapi bencana alam gempa bumi hingga tsunami. Untuk itu pemerintah terus berkomitmen dalam mengupayakan mitigasi bencana untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan pasca terjadinya bencana alam.

Satu diantaranya yakni melalui pemasangan alat pendeteksi tsunami yakni buoy di sejumlah wilayah rawan bencana. Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro mengatakan, Indonesia harus memperbaiki secara konprehensif dan masif terkait sistem peringatan dini untuk gempa terutama untuk tsunami. “Mengupgrade sistem early warning ini, merupakan keharusan,” katanya saat pelepasan Kapal Riset (KR) Baruna Jaya III Program InaTEWS 2019, Rabu (11/12) di pelabuhan Benoa.

Dikatakannya, sebenarnya sistem peringatan dini tsunami (Buoy) sudah ada sejak kejadian tsunami di Aceh. Namun kata dia, banyak Buoy yang rusak, atau dirusak oleh pihak yang tidak bertanggumg jawab.

Sehingga mengakibatkan early warning sistem tidak berjalan dengan baik. “Sejak tahun 2006, ada sebanyak 20 unit Buoy yang mayoritas dirusak dan tidak bisa befungsi lagi. Kedepan, diharapkan Buoy ini tidak hanya menjadi benda yang mengapung di laut, namun bisa bermanfaat untuk menyelamatkan banyak orang,” tegasnya.

Untuk itu, Indonesia early warning sistem ini mulai diperbaiki dengan Buoy baru buatan dalam negeri yang dibuat oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Menurutnya, akan ada sebanyak 12 unit Buoy yang akan dipasang.

Dari 12 itu, hingga akhir tahun 2019 ini total sebanyak 4 unit yang akan dipasang. Tiga diantaranya akan dipasang di Selatan Bali, selatan jawa timur, selatan jawa tengah, dan satu lagi di selat sunda. “Overall nanti sebanyak 12 unit yang akan dipasang ditempat-tempat yang sudah diidentifikasi berbahaya untuk potensi tsunami. Seperti Selat Sunda, Selata Jawa, Selat Bali, Lombok sampai ke Indonesia Timur, ke Maluku, Sulawesi Utara,” bebernya.

Baca juga:  Sepanjang Pantai Gianyar Tergolong Rawan Tinggi Tsunami

Sementara, Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan BPPT akan mendeploy peralatan deteksi dini tsunami di sekitar selatan Pulau Jawa dan Bali. Mulai dari Buoy Generasi 4, Ocean Bottom Unit (OBU), Mooring Line hingga Sinker. “KR Baruna Jaya III ini akan membawa peralatan deteksi dini tsunami (buoy tsunami), yang terdiri dari Buoy Generasi 4, Ocean Bottom Unit (OBU), Mooring Line dan Sinker serta peralatan pendukung lainnya untuk di deploy di sekitar selatan Pulau Jawa dan Bali,” ujarnya.

Keempat buoy tsunami itu akan dipasang di Selatan Pulau Jawa, sedangkan 2 Kabel Bawah Laut atau Cable Based Tsunameter (CBT) akan dipasang di kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK) dan perairan mentawai. Pada tanggal 8 hingga 26 Desember mendatang, KR Baruna Jaya III akan melakukan serangkaian perjalanan untuk memasang 4 buoy yang dimulai dari Pelabuhan Surabaya menuju Pelabuhan Benoa.

Kemudian dilanjutkan dengan deployment buoy Indonesia tsunami early warning system (Ina-TEWS) di Selatan Pulau Jawa. “Pada tahun 2019 ini, kami memasang 4 buoy tsunami dan 2 alat deteksi tsunami berbasis kabel atau Indonesia Cable Based Tsunameter (Ina – CBT). Salah satu lokasi pemasangan Ina-CBT di lokasi sekitar Kawasan Gunung Anak Krakatau,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Menristek juga menghadiri serah Terima Teknologi Industri Bahan Baku KIT Rapid Test Dengue yang merupakan inovasi teknologi bidang kesehatan yang dikembangkan oleh BPPT. Inovasi KIT Rapid Test Dengue ini nantinya untuk menguatkan deteksi dini terhadap infeksi virus dengue. Sehingga bisa mencegah keterlambatan penanganan pasien dan dapat menekan jumlah kematian pasien DBD. (Yudi Karnaedi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.