HardysPeduli gelar resik sampah plastik di Monumen Bajra Sandhi. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – CSR HardysPeduli adalah kegiatan sosial yang dilaksanakan melalui HardysFoundation yang fokus pada 3 bidang yaitu Bidang Lingkungan Hidup, Bidang Kemanusiaan serta Bidang Kebudayaan dan Spiritual. CSR HardysPeduli akan semakin sering dilaksanakan oleh HardysCorp khususnya di Bidang Lingkungan Hidup.

Pada Sabtu (31/8), HardysCorp melaksanakan CSR HardysPeduli Gerakan Semesta Berencana Bali Resik Sampah Plastik di Monumen Bajra Sandhi, Renon. Kegiatan ini akan dilaksanakan secara konsisten setiap minggunya di berbagai tempat di Bali untuk mendukung Pergub No.97 Tahun 2018.

Kegiatan ini melibatkan karyawan dan keluarga, rekan bisnis, generasi muda HardysCorp, Hillary Angelina Gardenia Hardy, Lilly Harmony Hardy, dan Jasmine Lovely Hardy serta masyarakat sekitar dengan mengajak anak-anak. Bukan hanya untuk mendukung program dari Gubernur Bali, namun juga menumbuhkan rasa kekeluargaan dan memberikan edukasi kepada keluarga besar HardysCorp.

Seperti yang sering digaungkan oleh Founder HardysCorp yaitu Gede Hardy dan Ketut Rukmini Hardy bahwa Konsep CSR HardysPeduli lebih mengutamakan pemberian bantuan dalam bentuk Jnana Yadnya melalui proses edukasi untuk generasi muda dan masyarakat melalui kegiatan sosial di lingkungan masyarakat.

Baca juga:  Badung Cabut Status Darurat Sampah

Tidak hanya melalui kegiatan CSR HardysPeduli Bidang Lingkungan Hidup, HardysCorp juga melaksanakan CSR HardysPeduli Bidang Kebudayaan dengan menghargai hasil pejuang pelestari seniman gamelan Bali dengan menggelar acara nonton bareng film Bali : Beats of Paradise yang bertujuan untuk memberi edukasi para generasi muda HardysCorp untuk menumbuhkan rasa cinta Budaya Indonesia. Sebab, film ini memberi gambaran kepada seluruh generasi muda Indonesia bahwa dimanapun berada tidak boleh meninggalkan budaya, tradisi, ajaran leluhur.

Bali : Beats of Paradise merupakan film layar lebar karya sutradara asal Indonesia, Livi Zheng. Film ini diangkat berdasarkan kisah nyata perjalanan hidup dan perjuangan dari I Nyoman Wenten dan istrinya (Naniek Wenten), seorang penari sekaligus seniman Gamelan Bali. Mereka mengajar di Amerika Serikat untuk memperkenalkan budaya gamelan dan tarian Bali di kancah dunia internasional. (kmb/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.