MANGUPURA, BALIPOST.com – Pada Anggara Kasih Medangsia, Selasa (13/8) adalah puncak piodalan di Pura Uluwatu dan Ida Bhatara katurang nyejer selama tiga hari hingga upacara panyineban, Jumat (16/8). Pangelingsir Puri Agung Jrokuta selaku Pengempon Pura Uluwatu, A.A. Ngurah Jaka Pratidnya, Minggu (11/8) mengungkapkan pujawali di Pura Uluwatu akan diawali dengan mundut Ida Bathara Sakti dari Pura Parerepan dengan berjalan kaki menuju Pura Luhur Uluwatu pukul 09.00-11.00 Wita.

Puncak karya dipuput Ida Pedanda Gede Made Karang dan Ida Pedanda Gede Sari Arimbawa (Griya Sari Denpasar) selama Ida Bhatara nyejer, juga katurang bhakti penganyar secara bergiliran oleh umat. Upacara penganyar Rabu hingga Kamis dipuput Ida Pedanda Giri Dwijaguna dan Ida Pedanda Gede Putra Mas. Sementara upacara panyineban dilakukan Jumat (16/8) mulai pukul 10.00 Wita dipuput Ida Pedanda Gede Ngurah Telaga dari Griya Tegal Denpasar.

Jaka Pratidnya yang akrab dipanggil Turah Joko ini meminta masyarakat untuk berhati-hati ketika pedek tangkil ke Pura Uluwatu, terutama saat prosesi mundut Ida Bhatara. Ia juga mengingatkan hasil paruman Desa Adat Pecatu memutuskan selama piodalan umat Hindu dilarang nunas tirtha menggunakan kantong plastik atau tempat berbahan plastik.

Pura Uluwatu dinyatakan steril dari bahan plastik, tidak saja saat piodalan namun juga sehari-hari. Para pemangku yang tergabung dalam Paiketan Pemangku Pecatu dan Kahyangan Jagat tidak melayani dan menyiapkan tirtha yang dibungkus dengan plastik.

Baca juga:  Gubernur Bali Bertemu Konsul, Berikan Kepastian Bali Masih Aman

Langkah ini dilakukan karena pengempon dan pengemong Pura Luhur Uluwatu berkomitmen sejak setahun lalu mengurangi penggunaan bahan plastik dalam kehidupan beragama. Kedua, para pedagang sekitar Pura juga dilarang menggunakan tas plastik saat melayani konsumen.

Dengan demikian Pura Uluwatu yang pertama kali menerapkan kebijakan ini guna ikut mengedukasi umat menjaga lingkungan dan kebersihan. Selama piodalan wisawatan juga dilarang masuk ke areal pura.

Umat diharapkan bersembahyang di Pura Pesambiangan Ratu Gede ring Nusa, lanjut ke Pura Jurit dan ke Pura Uluwatu. Persembahyangan umat dipusatkan di jaba tengah (madya mandala), sedangkan jaba dalem (utama mandala) hanya dipetuntukkkan bagi sulingggih.

Turah Joko juga menambahkan pengempon dan pengayah sudah menyiapkan upakara khusus untuk mengantisipasi ganasnya serangan monyet penghuni Alas Kekeran, Pecatu. Namun demikian Turah Joko juga minta umat berhati-hati membawa barang berharga seperti tas dan kacamata agar tak menjadi sasaran monyet Alas Kekeran.

Menurut beberapa sumber, Pura Uluwatu dibangun oleh Dhang Hyang Dwijendra pada masa pemerintahan suami-istri Sri Msula-Masuli pada sekitar abad XI. Pada Anggara Kliwon Wuku medangsia Dhangyang Dwijendra diberi wahyu dari Tuhan, pada hari itu juga beliau moksha di Pura Uluwatu.

Dalam Padma Bhuana di Bali Pura Uluwatu terletak di daerah baratdaya, tempat memuja Dewa Rudra. Di jaba tengah ada Candi kurung, candi Kurung ini dibuat sekitar abad ke-11. (Sueca/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.