Prof. Dr. Sutama. (BP/istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Pendidikan Ganseha (Undiksha), Singaraja menggulirkan pemilihan Dekan untuk periode 2019-2023. Hasilnya, Prof. Dr. I Made Sutama, M.Pd. terpilih dengan cara musyawarah mufakat.

Dalam pemilihan itu, akademisi asal Banjar Padang Tegal Kaja, Ubud ini bersaing dengan seorang calon Dr. I Nyoman Sila (Dosen Program Studi Seni Rupa Undiksha). Setelah kedua calon ini mempresentasikan visi misi dan programnya, 18 orang anggota Senat FBS Undiksha sepakat untuk menunjuk Prof. Sutama untuk menahkodai FBS untuk empat tahun ke depan.

Jabatan ini bukan yang pertama dijabat oleh Prof. Sutama. Pada periode 2006-2010, ia juga menjabat Dekan FBS. Selain itu, tahun 2002 sampai 2006 Prof. Sutama menjabat Wakil Dekan I, kemudian menjabat Wakil Rektor (Warek) I dari tahun 2010 sampai 2015.

Setelah empat tahun tidak menjabat, rupanya pengalamannya membuat rekan-rekan dosen di FBS menaruh kepercayaan besar untuk mengendalikan FBS untuk kali kedua. Prof. Sutama dihubungi Selasa (6/8) mengatakan, untuk mengemban kepercayaan anggota senat, pihkanya telah menyiapkan program prioritas. Program itu menyangkut peningkatan akreditasi program studi (prodi) di lingkungan FBS.

Selama ini prodi sudah mengantongi akreditasi B. Sebenarnya, prodi sudah harus naik kelas ke akreditasi A, namun hal itu belum dapat dicapai. Ini karena berbagai faktor, diantaranya rasio mahasiswa dan dosen belum ideal.

Selain itu, bidang kemahasiswaan, kegiatan ekstra yang meliputi bakat, minat, penalarannya masih lemah. Demikian juga dalam produktivitas ilmiah para dosennya masih perlu dipacu.

Baca juga:  Watimpres Komunikasikan Pembukaan Fakultas Kedokteran Undiksha

Tidak saja dari segi kuantitas, karya ilmiah yang mesti digenjot adalah yang berskala nasional yang memang menyediakan dana besar. Selain itu, peningkatan sarana prasarana perkuliahan juga akan diperjuangkan dalam masa jabatannya. Ini penting karena sejalan moto lembaga berlandaskan falsafah Tri Hita Karana (THK), infrastruktur itu harus disesuaikan sebagai pencintraan lembaga. “Itu beberapa penyebab kenapa prodi kita belum bisa mencapai akreditasi A dan sejalan dengan masa jabatan ini saya mencoba menangani hal itu dengan program prioritas itu, termasuk untuk masalah infrastruktur menjadi program prioritas,” katanya.

Menurut Prof. Sutama untuk menggenjot karya ilmiah dosen, dirinya ke depan akan melakukan terobosan dengan merancang “klinik penelitian.” Terobosan ini dibentuk untuk membantu para dosen membahas ide kreatif dan menyusun proposal, sehinga berkelas dan mendapatkan pembiayaan di jenjang nasional.

Selain itu, model yang dikembangkan ke depan adalah para dosen di lingkungan FBS akan menggelar focus grup discussion (FGD), untuk saling uji ide kreatif, sehingga ketika proposal diajukan, mampu bersaing dan bahkan mendapatkan pembiayaan. “Selama ini dari hulu kita kalah. Penelitian sekala nasional yang diajukan secara sendiri-sendiri. Ke depan kita rancang FGD meski informal saya kira ini efektif karena ide kreatif yang sudah digodok itu berkelas dan bisa memenangkan kompetisi untuk merebut penelitian nasional itu,” jelasnya. (Mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.