Taman Tanah Pegat, Desa Gubug, Tabanan, bertabur lampu untuk persiapan festival. (BP/bit)

TABANAN, BALIPOST, com – Tiap desa di Kabupaten Tabanan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata, khususnya wisata alam. Terbukti, banyak bermunculan objek wisata alam yang dikelola oleh desa atau masyarakat perorangan. Contohnya keberadaan Taman Tanah Pegat di Banjar Tanah Pegat, Desa Gubug, Kecamatan Tabanan.

Awalnya objek wisata ini hanya tegalan kosong, namun dengan sentuhan kreativitas pemilik lahan, kini telah berubah menjadi daya tarik wisata tersembunyi di Desa Gubug. Di taman tersebut terdapat beberapa tempat bersuafoto, termasuk di Tukad Yeh Empas yang dulunya kumuh.

Untuk lebih mengenalkan keberadaan objek wisata ini, I Gusti Putu Susila menggelar Festival Cahaya dari Lampu (Tabanan Light Festival) dengan memanfaatkan latar belakang Sungai Yeh Empas pada 20 Juli sampai 17 Agustus mendatang. Selain menampilkan beragam permainan lampu, tiap harinya juga akan ditampilkan kesenian band anak muda serta artis Bali tiap Sabtu malam. “Kami melibatkan STT dan komunitas pemuda di Tabanan. kami siapkan tiga panggung,” terangnya, Rabu (17/7).

Dua dari tiga panggung yang disiapkan sengaja dikemas dekat dengan nuansa alam, namun tidak sampai merusak alam yang ada. Seperti panggung dengan hiasan pohon bambu yang berada di tengah tegalan milik warga, serta panggung apung di tengah Sungai Yeh Empas.

Baca juga:  Jalan Menuju Rumah Pohon Kembali Putus Diterjang Banjir

Masyarakat lokal juga akan menampilkan beragam kuliner. Sebab, digelarnya festival ini juga diharapkan bisa mensejahterakan masyarakat lokal dan ikut terlibat di dalamnya. Untuk sajian kuliner, ada 10 stan kuliner yang akan menampilkan beragam pilihan menu seperti bubuh dan Jajan Bali, serta jajanan anak anak seperti sosis. “Semua ini turut ditampilkan sebagai pelengkap. Kami juga siapkan dua tempat bermain anak di tengah kerlap kerlip hamparan lampu,” pungkasnya.

Pelaksaan festival di tengah momen hari raya dan HUT Kemerdekaan RI ini diharapkan mampu menyedot perhatian 15 ribu pengunjung selama satu bulan. “Kami juga bekerja sama dengan pihak adat, khususnya pecalang dalam hal pengaturan parkir dan serta keamanan,” ucapnya.

Gusti Susila yang sudah hampir 14 tahun bergelut di dunia panggung dan dekorasi melihat di Tabanan masih sangat kurang lokasi untuk rekreasi yang menawarkan suasana yang asri, nyaman, dan tenang. Melalui lahan yang dimilikinya, ia ingin mewujudkan satu lokasi yang mendekatkan masyarakat ke alam tanpa harus merusak lingkungan atau alam sekitarnya. “Intinya bagaimana bisa berbuat sesuatu untuk alam tanpa merusak alam. Kami juga mendapatkan dukungan dari warga sekitar terkait peminjaman lahan tegalan mereka untuk mendukung festival ini,” jelasnya. (Dewi Puspawati/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.