Saya belakangan ini mengikuti pemberitaan terkait tidak tercapainya pendapatan daerah akibat turunnya kunjungan wisatawan. Bahkan, Kabupaten Badung melakukan revisi atas rencana pencapaian pendapatannya.

Ini juga berdampak pada direvisinya sejumlah proyek-proyek pemerintahan. Rasionalisasi lebih awal ini jauh lebih penting dilakukan ketimbang di tengah jalan tak ada anggaran.

Saya menyadari bahwa belakangan ini kondisi ini ekonomi yang lesu berdampak pada banyak hal. Selain tingkat hunian hotel dikatakan terus turun, pendapatan di sektor pariwisata juga terus terkoreksi. Turunnya pendapatan  dari sektor pariwisata mestinya dievaluasi dan dicarikan solusi.

Mencermati hal ini, tampaknya Bali juga perlu segera berbenah. Jika tak ada komitmen yang jelas dalam pengembangan pariwisata, saya yakin satu saat Bali akan kalah saing dari negara-negara lain yang kini sibuk menjadikan pariwisata sebagai industri.

Baca juga:  GMF Raup Pendapatan 115,9 Juta Dolar

Saya dengar Taiwan, Thailand dan Vietnam kini sangat gencar melakukan penataan wilayannya untuk mendapatkan pendapatan dari sektor parwisata. Saya juga berharap agar ditengah lesunya pariwisata, Bali melakukan langkah-langkah yang lebih jelas mengelola pariwisata budaya dan pariwisata yang berbasis lingkungan. Kita jangan tersandera kepentingan investasi yang merusak tata ruang dan alam Bali.

Mudah-mudahan pada era baru ini Bali benar-benar bisa berbuat banyak untuk menjaga Bali. Jadi harus ada kesiapan dan kesungguhan untuk berbuat untuk Bali. Jangan lagi mengedepankan arogansi dan kepentingan kekuasaan. Mari jaga Bali untuk bersatu dan bersama-sama menjaga Bali. Hilangkan sekat-sekat politik dan kekuasaan jika kita ingin ngayah untuk Bali.

Wayan Arsana

Gianyar-Bali

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.